Efikasi Marimastat dalam Meminimalisir Hemoragi Akibat Venom Trimeresurus insularis Kramer, 1977 pada Mencit Mus musculus Linnaeus, 1758
Fitriana Damayanti, Dr. Fajar Sofyantoro, S.Si., M.Sc.
2026 | Skripsi | BIOLOGI
Gigitan ular berbisa dari famili Viperidae, termasuk Trimeresurus insularis, dapat menyebabkan perdarahan (hemoragi) yang parah akibat komponen dalam venom, khususnya snake venom metalloproteinase (SVMP). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efikasi marimastat dalam netralisasi hemoragi yang diinduksi oleh venom T. insularis serta mengamati perubahan histopatologi kulit mencit setelah induksi venom T. insularis dan perlakuan dengan marismatat. Pada penelitian ini dilakukan analisis pada parameter hemoragi makroskopis, hemoragi mikroskopis, ketebalan lapisan integumen, degradasi kolagen, dan infiltrasi sel inflamasi. Penenlitian menggunakan mencit Mus musculus jantan galur BALB/c sebagai hewan uji. Preparat histologis kulit mencit dianalisis menggunakan pewarnaan Hematoxylin-Eosin (HE) dan Mallory Acid Fuchsin (MAF). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa marimastat mampu meminimalisir hemoragi pada dosis 2:20 untuk hemoragi makroskopis, serta dosis 2:2 untuk hemoragi mikroskopis. Selain itu, perlakuan pemberian marimastat juga dapat mengurangi kerusakan dan mempertahankan kondisi normal jaringan kulit mencit pada dosis 2:10 untuk degradasi kolagen dan infiltrasi sel inflamasi. Sementara itu, pada ketebalan lapisan integumen tidak menunjukan perubahan yang signifikan secara statistik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa marimastat memiliki potensi sebagai agen terapi adjuvant dalam mengatasi efek toksik venom ular.
Envenomation by Viperidae species, including Trimeresurus insularis, frequently results in severe hemorrhagic pathology mediated by bioactive venom components, particularly snake venom metalloproteinases (SVMPs). This study investigated the efficacy of marimastat in neutralizing hemorrhage induced by T. insularis venom and characterized associated histopathological alterations in murine skin. Male BALB/c mice were used as the experimental model. Histopathological evaluations included macroscopic and microscopic hemorrhage, integumentary thickness, collagen degradation, and inflammatory cell infiltration. Tissue sections were processed and stained using Hematoxylin–Eosin (HE) and Mallory Acid Fuchsin (MAF) to assess structural and extracellular matrix changes. Marimastat effectively attenuated venom-induced hemorrhage, with optimal neutralization observed at dose ratios of 2:20 for macroscopic hemorrhage and 2:2 for microscopic hemorrhage. In addition, marimastat treatment markedly reduced collagen degradation and inflammatory infiltration at a 2:10 dose ratio, thereby preserving overall skin histoarchitecture. No statistically significant differences were detected in integumentary layer thickness among treatment groups. Collectively, these findings demonstrate that marimastat exhibits strong potential as an adjuvant therapeutic agent capable of mitigating the hemorrhagic and tissue-destructive effects of T. insularis venom
Kata Kunci : Antivenom, hemoragi, histopatologi, marimastat, Trimeresurus insularis