Kajian Spesies Lokal Bernilai Budaya Nagasari (Mesua ferrea L.) dan Walikukun (Schoutenia ovata) Serta Persebaranya di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul.
Alfian Nur Rofa'i Werdyatma, Ir. Denni Susanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D.
2026 | Tugas Akhir | D4 PENGELOLAAN HUTAN
Kabupaten Bantul dan Gunungkidul memiliki perbedaan ekologi yang berpengaruh terhadap keanekaragaman hayati dan praktik budaya pemanfaatan tumbuhan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) mengetahui persebaran dan kondisi habitat spesies Nagasari (Mesua ferrea L.) dan Walikukun (Schoutenia ovata) di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul dan (2) mengetahui perspektif nilai budaya dan mendokumentasikan makna simbolik spesies Nagasari (Mesua ferrea L.) dan Walikukun (Schoutenia ovata) bagi kehidupan masyarakat. Metode yang digunakan yaitu wawancara untuk mengetahui persepsi masyarakat dan analisis spasial menggunakan overlay untuk mengetahui persebaran serta habitat Nagasari dan Walikukun. Hasil yang ditemukan adalah Nagasari dan Walikukun di wilayah Bantul dan Gunungkidul, tersebar tidak merata. Di Bantul, ditemukan sebanyak 35 Nagasari dan 16 Walikukun. Sementara di Gunungkidul, ditemukan 2 Nagasari dan 15 Walikukun. Selain itu, pada pola elevasi, Nagasari yang ditemukan di wilayah Bantul paling banyak dijumpai pada elevasi 101-200 mdpl sedangkan Walikukun dijumpai pada elevasi 51-100 mdpl. Di Gunungkidul, Nagasari dan Walikukun tumbuh paling banyak pada elevasi >200 mdpl. Kedua spesies itu hidup pada curah hujan 1.500-3000 mm/tahun dan hidup pada jenis tanah yang beragam. Keberadaan tumbuhan pendamping seperti sawo dan kayu putih mengindikasikan adanya hubungan ekologis tertentu. Menurut perspektif masyarakat, manfaat Nagasari dan Walikukun yang paling banyak diketahui adalah sebagai perindang, menjaga kelestarian lingkungan, perlengkapan pusaka dan kerajinan tangan dengan variasi antar wilayah. Pengetahuan terkait nilai negatifnya tidak banyak diketahui tetapi beberapa informan mengetahui risiko negatifnya seperti kemungkinan tumbang dan tumbuhnya lama dan susah. Penelitian ini menegaskan Nagasari (Mesua ferrea L.) dan Walikukun (Schoutenia ovata) memiliki sebaran yang dipengaruhi kondisi ekologi serta berperan penting secara ekologis dan kultural, dengan persepsi masyarakat yang mendukung upaya pelestariannya.
Bantul and Gunungkidul Regencies have distinct ecological characteristics that influence biodiversity and cultural practices related to the use of local plant resources. This study aims to analyze the distribution and habitat conditions of Nagasari (Mesua ferrea L.) and Walikukun (Schoutenia ovata) in Bantul and Gunungkidul Regencies, as well as to examine community perspectives on their cultural values and to document their symbolic meanings in local life. Data were collected through interviews to capture community perceptions and spatial analysis using overlay techniques to identify distribution patterns and habitat characteristics. The results show that both species are unevenly distributed between the two regions, with higher abundance recorded in Bantul compared to Gunungkidul, and are predominantly represented by the tree growth stage. Differences in elevation preferences were observed, where Nagasari (Mesua ferrea L.) and Walikuku (Schoutenia ovata) in Bantul were mostly found at low to mid elevations, while in Gunungkidul both species were concentrated at elevations above 200 m above sea level. Both species occur across a wide range of soil types and in areas with annual rainfall between 1,500 and 3,000 mm. The presence of associated plant species indicates specific ecological relationships within their habitats. From the community perspective, Nagasari (Mesua ferrea L). and Walikukun (Schoutenia ovata) are widely recognized for their functions as shade trees, contributors to environmental sustainability, and materials for cultural artifacts and handicrafts, although knowledge of their negative aspects remains limited. Overall, the findings confirm that ecological conditions strongly influence the distribution of both species and that they play important ecological and cultural roles, with community perceptions suggesting considerable potential for their conservation
Kata Kunci : Mesua ferrea L., Schoutenia ovata, Distribusi spasial, Kondisi habitat, dan Interpretasi sosial