Between Trauma and Unspoken Scream: Julia Kristeva’s Semiotics of a Male Sexual Assault Survivor with PTSD in Siksa Kubur (2024)
Muhammad Ainur Rizky, Syafrizal, S.I.P, M.A.
2026 | Skripsi | Ilmu Komunikasi
Sinema kontemporer Indonesia jarang menganggap korban kekerasan seksual laki-laki sebagai wacana kritis, meninggalkan celah kritis dalam memahami bagaimana narasi budaya mengartikulasikan subjektivitas pasca-trauma; namun, Siksa Kubur (2024) menyajikan cerita horor dari sudut pandang kritik sosial yang berbeda, memicu banyak diskusi. Karena kurangnya representasi media, penelitian ini bermaksud untuk menembus penggambaran seorang penyintas kekerasan seksual laki-laki dengan gejala Gangguan Stres Pasca-Trauma (PTSD) karena serangan seksual yang dilakukan oleh seorang pria terkemuka, dengan sorotan pada trauma seksual dari karakter utama tematik film ini (Adil). Melalui Semiotika Film Kristeva (signifikan, ikonik, dan ideologema film), penelitian ini telah mengungkapkan transformasi psikologis karakter di seluruh fase kehidupan yang berbeda: keadaan pra-trauma, PTSD jangka pendek, dan efek psikologis jangka panjang. Dampak emosional trauma yang divisualisasikan, terjalin dengan intertekstualitasnya dari rasa malu sosial penyintas pria dan respons traumatis yang agresif, ditafsirkan melalui gerakan tubuh, nada, dan bahasa Adil. Di luar simbol PTSD, penelitian ini juga telah memeriksa teknik narasi film melalui metafora visual dan simbolisme sinematik, menerjemahkan pembungkus figur hantu dan manifestasi akhirat, yang merupakan latar belakang karakter dan konsekuensi PTSD yang berkepanjangan, menggambar pada Kekuatan Horor Kristeva. Pada akhirnya, film horor psiko ini memiliki potensi untuk menantang standar maskulin tradisional dan menekan akuntabilitas institusional yang lebih besar dalam kejadian di masa depan. Melalui analisis visual dan budaya yang kritis, penelitian di masa depan perlu mengatasi stigma terhadap penyintas laki-laki dari kekerasan seksual dengan mempertanyakan maskulinitas tradisional dan penolakan sosial.
Indonesian contemporary cinema rarely considers male sexual assault victims as a critical discourse, leaving critical gaps in understanding how cultural narratives articulate post-traumatic subjectivity; however, Siksa Kubur (2024) presents horror stories from a different angle of social critique, sparking numerous discussions. Due to a lack of media representation, this research intends to break through the portrayal of a male sexual assault survivor with Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) symptoms owing to sexual assault committed by a leading man, with a spotlight on the sexual trauma of this film’s thematic main character (Adil). Through Kristeva’s Film Semiotics (significant, iconic, and the film’s ideologema), this research has revealed the character’s psychological transformation across distinct life phases: pre-trauma circumstances, short-term PTSD, and long-term psychological effects. The visualized emotional impact of trauma, intertwined with its intertextuality of male survivors’ societal embarrassment and aggressive traumatic responses, is interpreted through Adil’s bodily movement, tone, and language. Beyond PTSD symbols, this research has also examined the film’s narrative techniques through visual metaphors and cinematic symbolism, translating the ghostly figures’ wrapping and afterlife manifestations, which constitute the character’s backstory and the prolonged PTSD consequences, drawing on Kristeva’s Powers of Horror. Ultimately, this psycho-horror film has the potential to challenge traditional masculine standards and press for greater institutional accountability in future occurrences. Through critical visual and cultural analysis, future research needs to tackle the stigma against male survivors of sexual assault by questioning traditional masculinity and societal denial.
Kata Kunci : film, representation, semiotics, Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), sexual assault