Laporkan Masalah

Resiliensi Mahasiswa Baru dalam Ranah Asrama: Studi Habitus dan Modal di Asrama Ratnaningsih Kinanti UGM

Fani Dwi Lestari, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si.

2025 | Skripsi | Sosiologi

Mahasiswa baru menghadapi masa transisi dengan tantangan dan dinamika sosial yang kompleks ketika masuk Perguruan Tinggi. Tidak jarang mahasiswa baru mengalami stres, kecemasan, kesepian, hingga gangguan mental. Terutama mahasiswa perempuan, menurut data Kemenkes 2023 tercatat mengalami prevalensi depresi 2,8% lebih tinggi dibandingkan laki-laki pada masa transisi remaja menuju dewasa. Fakta ini menunjukkan bahwa mahasiswa baru perempuan merupakan kelompok yang rentan terhadap tekanan psikologis. Selain itu tidak jarang terdapat berbagai kasus terkait rendahnya kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, hingga perasaan terasing, yang berhubungan dengan kesulitan beradaptasi di lingkungan baru. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengkaji dinamika mahasiswa baru perempuan dalam lingkup asrama universitas, karena asrama tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang komunal yang membentuk interaksi sosial sekaligus memengaruhi proses adaptasi dan resiliensi.

Penelitian ini berfokus pada mahasiswa baru perempuan penghuni Asrama Ratnaningsih Kinanti UGM dengan tujuan menganalisis tumbuhnya resiliensi mahasiswa baru perempuan penghuni asrama dengan mengkaji bagaimana habitus dan modal sosial, kultural, serta simbolik dalam ranah asrama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di Asrama Ratnaningsih Kinanti, dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi mahasiswa perempuan penghuni Asrama Ratnaningsih Kinanti berlangsung dalam tiga tahapan: mengenali tantangan dengan menyadari habitus asal dan habitus baru, menavigasi dengan memanfaatkan modal sosial, kultural, dan simbolik serta upaya fit in, dan bernegosiasi di arena asrama untuk memperoleh pengakuan dan legitimasi. Proses ini menghasilkan dua kecenderungan, yaitu resiliensi cepat tumbuh bagi mahasiswa yang mampu menegosiasikan habitus dan modal sehingga memperoleh posisi sosial, serta resiliensi terhambat bagi mereka yang gagal menyesuaikan diri. Dinamika tersebut berlangsung dalam kerangka kekerasan simbolik yang bekerja secara halus melalui norma sehari-hari dan aturan komunal.

First-year university students undergo a transitional period marked by complex challenges and social dynamics upon entering higher education. Many experience stress, anxiety, loneliness, and even mental health disorders. Female first-year students, in particular, constitute a vulnerable group; data from the Indonesian Ministry of Health (2023) indicate that the prevalence of depression among young women is 2.8% higher than among men during the transition from adolescence to adulthood. This condition highlights the heightened psychological vulnerability of female first-year students. Moreover, various issues related to poor mental well being such as stress, anxiety, and feelings of alienation are often associated with difficulties in adapting to new environments. In this context, university dormitories function not merely as residential spaces but also as communal arenas that shape social interactions and significantly influence students’ processes of adaptation and resilience.

This study focuses on female first-year students residing at Ratnaningsih Kinanti Dormitory, Universitas Gadjah Mada, and aims to analyze the development of resilience among dormitory residents by examining the role of habitus and social, cultural, and symbolic capital within the dormitory field. Employing a qualitative approach with a case study design, this research was conducted at Ratnaningsih Kinanti Dormitory through in-depth interviews, non-participant observation, and documentation. The findings reveal that resilience among female dormitory residents unfolds through three interrelated stages: recognizing challenges by reflecting on prior habitus and newly formed habitus; navigating the dormitory environment by mobilizing social, cultural, and symbolic capital as well as engaging in efforts to fit in; and negotiating within the dormitory field to obtain recognition and legitimacy. These processes generate two distinct tendencies: rapidly developing resilience among students who successfully negotiate their habitus and capital to secure social positions, and constrained resilience among those who struggle to adapt. These dynamics operate within a framework of symbolic violence that subtly manifests through everyday norms and communal regulations.

Kata Kunci : transisi mahasiswa, resiliensi, asrama perempuan, habitus

  1. S1-2025-480313-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480313-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480313-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480313-title.pdf