Strategi Penerjemahan Aizuchi Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia untuk Mengetahui Kesepadanan Pragmatik dalam Video Xuan Nihon e Iku!
Iffatu Masrura Al Hakimi, Dr. Wiwik Retno Handayani, S.S., M.Hum.
2026 | Tesis | S2 LinguistikPenerjemahan takarir bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia menghadapi tantangan pragmatik, terutama dalam mengalihkan aizuchi sebagai unsur interaksional yang khas dalam percakapan bahasa Jepang. Perbedaan norma komunikasi serta keterbatasan teknis takarir berpotensi memengaruhi keterjagaan fungsi pragmatik dalam bahasa sasaran. Penelitian ini mengkaji penerjemahan aizuchi bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia serta kesepadanan pragmatik yang dihasilkan dalam takarir video pembelajaran Xuan Nihon e Iku! dengan menggunakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data penelitian berjumlah 248 aizuchi yang dianalisis berdasarkan bentuk, fungsi, strategi penerjemahan, dan tingkat kesepadanan pragmatik. Hasil penelitian bentuk dan fungsi berdasarkan Horiguchi (1997) menunjukkan bahwa bentuk aizuchi ungkapan pendek (aizuchi shi) paling dominan (77,82%). Dari sisi fungsi, aizuchi paling banyak berfungsi sebagai penanda persetujuan (47,98%) dan penanda pemahaman (25,4%). Strategi penerjemahan berdasarkan Mona Baker (2018) yang paling sering digunakan dalam video Xuan Nihon e Iku! adalah penerjemahan dengan kata yang lebih umum (superordinate) sebesar 39,92%, diikuti parafrase menggunakan kata yang berkaitan (25,81%) dan parafrase menggunakan kata yang tidak berkaitan (16,94%). Analisis kesepadanan berdasarkan House (2015) pragmatik menunjukkan bahwa 70,97?ta tergolong sepadan, 20,97% kurang sepadan, dan 8,06% tidak sepadan. Ketidaksepadanan terutama disebabkan oleh strategi penghilangan yang menghilangkan fungsi interpersonal aizuchi dalam bahasa sasaran. Penelitian ini menegaskan bahwa pemertahanan fungsi pragmatik aizuchi berpengaruh signifikan terhadap kesepadanan terjemahan dalam konteks takarir audiovisual.
The translation of Japanese subtitles into Indonesian poses pragmatic challenges, particularly in transferring aizuchi as an interactional feature characteristic of Japanese conversation. Differences in communicative norms and the technical constraints of subtitling may affect the preservation of pragmatic functions in the target language. This study examines the translation of Japanese aizuchi into Indonesian and the resulting pragmatic equivalence in the subtitles of the educational video Xuan Nihon e Iku! using a descriptive qualitative approach. The data consist of 248 aizuchi, which were analyzed in terms of form, function, translation strategies, and levels of pragmatic equivalence. The analysis of forms and functions based on Horiguchi (1997) shows that short aizuchi expressions (aizuchi shi) are the most dominant form (77.82%). In terms of function, aizuchi most frequently serve as markers of agreement (47.98%) and markers of understanding (25.4%). Based on Baker’s (2018) framework, the most frequently used translation strategy in Xuan Nihon e Iku! is translation by a more general word (superordinate) at 39.92%, followed by paraphrase using related words (25.81%) and paraphrase using unrelated words (16.94%). Pragmatic equivalence analysis based on House (2015) indicates that 70.97% of the data are pragmatically equivalent, 20.97% are partially equivalent, and 8.06% are not equivalent. Pragmatic non-equivalence mainly results from the use of omission, which eliminates the interpersonal function of aizuchi in the target language. This study confirms that preserving the pragmatic function of aizuchi significantly affects translation equivalence in the context of audiovisual subtitling.
Kata Kunci : aizuchi, penerjemahan audiovisual, kesepadanan pragmatik, takarir, bahasa Jepang