ODHIV di Daerah Istimewa Yogyakarta: Tantangan Menjalani Gaya Hidup Sehat
Luluk Oktavia, Prof. Dr. Atik Triratnawati, M.A.
2026 | Tesis | S2 Antropologi
Kemajuan
terapi ARV telah meningkatkan harapan hidup orang dengan HIV, bahkan memungkinkan
peluang yang sama dengan populasi umum. Dalam konteks ini, gaya hidup sehat menjadi
faktor penting yang tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terapi ARV, tetapi
juga dengan cara ODHIV memaknai kesehatan, merawat diri, dan mempertahankan
keberlanjutan hidup di tengah stigma dan diskriminasi. Penelitian ini bertujuan
untuk memahami pengetahuan dan praktik gaya hidup sehat yang dijalankan ODHIV
di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta mengidentifikasi tantangan yang mereka
hadapi dalam mempertahankannya.
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, melibatkan lima informan
yang aktif menjalani terapi ARV dan tergabung dalam komunitas Pita Merah Jogja.
Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan
dokumentasi selama periode Juli–September 2025. Analisis data dilakukan dengan
memadukan Health Belief Model dan perspektif antropologi kesehatan untuk
membaca relasi antara pengetahuan, praktik, makna, serta konteks sosial-budaya
dan struktural.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup sehat ODHIV tidak dipahami sebagai
kepatuhan medis semata, tetapi sebagai praktik keseharian yang dinegosiasikan
secara relasional dengan keluarga, komunitas, tenaga kesehatan, lingkungan
kerja, dan kebijakan kesehatan. ARV menjadi titik awal kesadaran hidup sehat,
namun keberlanjutannya sangat dipengaruhi oleh dukungan sosial, rasa aman dari
stigma, akses BPJS, serta kondisi ekonomi dan fleksibilitas kerja. Tantangan
dalam menjalankan gaya hidup sehat mencakup kejenuhan terapi, keterbatasan
waktu, fluktuasi suasana hati, tekanan sosial, serta norma lingkungan yang
permisif terhadap perilaku berisiko seperti merokok. ODHIV mengembangkan
strategi kontekstual seperti selective disclosure, berdamai dengan diri
sendiri, penyesuaian dengan lingkungan, dan kompromi pola makan dan aktivitas
fisik. Penelitian ini mengkritisi HBM yang cenderung menekankan rasionalitas
individual, dengan menunjukkan bahwa kesadaran hidup sehat ODHIV bersifat
relasional dan kontekstual, sehingga upaya kesehatan perlu memperkuat
lingkungan sosial, layanan inklusif, dan kebijakan yang sensitif terhadap
kehidupan sehari-hari ODHIV.
Advances
in ARV therapy have increased the life expectancy of people with HIV, even
allowing them to have the same opportunities as the general population. In this
context, a healthy lifestyle has become an important factor that is not only
related to ARV therapy adherence, but also to how PLHIV interpret health, take
care of themselves, and maintain their sustainability amid stigma and
discrimination. This study aims to understand the knowledge and practices of
healthy lifestyles among PLHIV in the Special Region of Yogyakarta, as well as
to identify the challenges they face in maintaining them.
This
study uses a qualitative approach with ethnographic methods, involving five
informants who are actively undergoing ARV therapy and are members of the Pita
Merah Jogja community. Data were collected through participatory observation,
in-depth interviews, and documentation during the period of July–September
2025. Data analysis integrates the Health Belief Model with perspectives from
medical anthropology to examine the interrelations between knowledge, practice,
meaning, and broader socio-cultural and structural contexts.
The
results show that a healthy lifestyle for PLHIV is not understood as mere
medical compliance, but as a daily practice that is relationally negotiated
with family, community, health workers, work environment, and health policies.
ARV is the starting point for healthy living awareness, but its sustainability
is greatly influenced by social support, safety from stigma, access to BPJS, as
well as economic conditions and work flexibility. Challenges in implementing a
healthy lifestyle include treatment fatigue, time constraints, mood swings,
social pressure, and permissive environmental norms towards risky behaviors
such as smoking. PLHIV develop contextual strategies such as selective
disclosure, processes of self-acceptance, adapting to the social environment,
and compromising on diet and physical activity. This study critiques the HBM,
which tends to emphasize individual rationality, by showing that ODHIV's
awareness of healthy living is relational and contextual, so that health
interventions need to strengthen the social environment, inclusive services,
and policies that are sensitive to the daily lives of ODHIV.
Kata Kunci : ODHIV, gaya hidup sehat, antropologi kesehatan, Daerah Istimewa Yogyakarta