Laporkan Masalah

Adopsi Inovasi Good Agricultural Practices Budidaya Bawang Merah Pada Petani Peserta Sekolah Lapang di Kabupaten Sleman

Jesika Kusuma Putri, Alia Bihrajihant Raya, S.P., M.P., Ph.D. ; Dr. Dyah Woro Untari, S.P., M.P.

2026 | Skripsi | PENYULUHAN & KOMUNIKASI PERTANIAN

Peningkatan produksi bawang merah yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta tidak berbanding lurus dengan yang ada di Kabupaten Sleman. Hal ini membuat Pemerintah Kabupaten Sleman membuat program sekolah lapang budidaya bawang merah yang prakteknya didasarkan oleh Good Agricultural Practices (GAP). Sekolah Lapang GAP bawang merah ini dilaksanakan di enam dusun yang kemudian pada setiap tempat akan diambil 9-11 orang responden secara acak dengan menggunakan metode simple random sampling. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif dengan menggunakan data primer dari wawancara terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat adopsi inovasi petani peserta sekolah lapang, (2) mengetahui tingkat motivasi petani mengikuti kegiatan sekolah lapang, (3) mengetahui faktor internal dan eksternal apa saja yang mempengaruhi motivasi petani dalam mengikuti kegiatan sekolah lapang, dan, (4) mengetahui pengaruh motivasi mengikuti kegiatan sekolah lapang terhadap adopsi petani peserta sekolah lapang. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini dengan uji validitas dan reliabilitas, serta uji asumsi klasik yang kemudian dilanjutkan dengan proporsi, uji regresi linear berganda dan uji regresi sederhana. Hasil menunjukkan bahwa tingkat adopsi inovasi petani peserta sekolah lapang tinggi. Tingkat motivasi petani mengikuti kegiatan sekolah lapang tinggi. Faktor internal yang mempengaruhi motivasi petani mengikuti sekolah lapang adalah sikap petani, sedangkan pada faktor eksternalnya adalah penyuluh. Motivasi petani yang tinggi mempengaruhi tingkat adopsi inovasi GAP bawang merah dan pengaruhnya mencapai lebih dari 50%.

The increase in shallot production in the Special Region of Yogyakarta is not proportional to that in Sleman Regency. This prompted the Sleman Regency Government to initiate a field school program for shallot cultivation, which is based on Good Agricultural Practices (GAP). The GAP Shallot Field School was implemented in six hamlets, with 9–11 respondents randomly selected at each location using the simple random sampling method. This study employed a quantitative-descriptive approach, utilizing primary data obtained through structured interviews. The objectives of the research were to: (1) determine the level of innovation adoption among farmers participating in the field school, (2) assess farmers’ motivation to join the field school activities, (3) identify internal and external factors influencing farmers’ motivation to participate, and (4) analyze the effect of farmers’ motivation on the adoption of innovations by field school participants. Data analysis included validity and reliability tests, classical assumption tests, followed by proportion analysis, multiple linear regression, and simple regression tests. The results revealed that the level of innovation adoption among field school participants was high. Farmers’ motivation to participate in the field school was also high. The internal factor influencing farmers’ motivation was their attitude, while the external factor was the role of extension workers. High farmer motivation significantly affected the adoption of GAP shallot innovations, with an influence exceeding 50%.

Kata Kunci : sekolah lapang, bawang merah, motivasi, adopsi, GAP.

  1. S1-2026-481156-abstract.pdf  
  2. S1-2026-481156-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-481156-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-481156-title.pdf