Laporkan Masalah

KEMAKMURAN SEMU: IMING-IMING KEMAKMURAN MENANAM KENTANG DAN KEGAMANGAN PADA PETANI MENENGAH DI PANDANSARI

MUHAMAD RAFI NABIL HAIDAR, Dr. Agung Wicaksono, S.Ant., M.A.

2026 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA

Di Pandansari, Paguyangan, Brebes, kentang sempat menjadi komoditas pembawa kemakmuran karena menjanjikan kesempatan ekonomis yang tinggi dan stabil, tetapi tidak berlangsung lama. Penurunan produktivitas dan kenaikan modal produksi telah menyerang pertanian kentang, membuat penanaman kentang semakin berat dilakukan. Kentang pun menjadi komoditas penuh risiko: modal dan risiko kegagalannya tinggi. Namun, petani menengah, dengan modalnya yang terbatas, masih terus berusaha menanam kentang, memilihnya sebagai komoditas pilihan utama produksi. Di tengah dinamika pertanian yang penuh dengan pertaruhan, petani menengah justru terlihat memperbesar pertaruhannya dengan menanam kentang. Kondisi ini melahirkan sebuah pertanyaan, mengapa petani menengah terus berupaya menanam kentang sebagai komoditas utama meskipun modalnya besar dan risiko kegagalannya tinggi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian dilakukan selama 2 bulan dengan rincian dua minggu pada awal Januari 2023, satu bulan pada September sampai Oktober 2023, satu minggu pada akhir Juli 2024 dan beberapa kali kunjungan pendek pada Oktober 2024. Penelitian dilakukan dengan metode etnografi dengan observasi partisipasi dan wawancara mendalam sebagai mekanisme pencarian data. Hasilnya, petani menengah terus menanam kentang karena iming-iming kemakmuran yang dijanjikannya. Secara ekonomi, pasar mengiming-imingi keuntungan yang tinggi dan stabil dari menanam kentang, yang cocok dengan kemampuan produksi petani menengah. Secara sosial, kentang telah disimbolkan sebagai komoditas kemakmuran yang telah melekat dalam imaji para petani sejak lama. Hasilnya, bagi petani menengah, kentang menjanjikan dua bentuk kemakmuran. Kemakmuran nyata dapat diraih jika berhasil meraup keuntungan secara terus-menerus sedangkan kemakmuran semu dapat diraih dengan menanam kentang yang telah menjadi simbol kemakmuran. Namun, dengan terus menurunnya produktivitas pertanian kentang dan menaiknya modal, pada akhirnya, kentang menempatkan petani menengah dalam posisi yang penuh dengan kegamangan antara berhasil meraih kemakmuran nyata atau kemakmuran semu saja dan antara melanjutkan mengejar kemakmuran dengan kentang atau tidak.

In Pandansari, Paguyangan, Brebes, potatoes once emerged as a commodity that brought prosperity due to their promise of high and stable economic returns, yet this condition did not last. Declining productivity and rising production costs have increasingly burdened potato farming, turning it into a high-risk commodity characterized by substantial capital requirements and a high probability of failure. Nevertheless, medium-scale farmers, despite their limited capital, continue to cultivate potatoes and maintain them as their primary production commodity, effectively enlarging their economic gamble amid an agricultural landscape marked by uncertainty. This situation raises the question of why medium-scale farmers persist in prioritizing potato cultivation despite its high capital demands and risk of failure. To address this question, the research was conducted over a two-month period, comprising two weeks in early January 2023, one month between September and October 2023, one week in late July 2024, and several short visits in October 2024. The study employed an ethnographic approach, with participant observation and in-depth interviews as the primary data collection methods. The findings show that medium-scale farmers continue to grow potatoes because of the promise of prosperity attached to the crop. Economically, the market offers the prospect of high and relatively stable profits that correspond to the production capacity of medium-scale farmers, while socially, potatoes have long been symbolized as a commodity of prosperity embedded in farmers’ collective imagination. As a result, potatoes promise two forms of prosperity for medium scale farmers: tangible prosperity, achieved through continuous economic gains, and symbolic or illusory prosperity, attained through engagement in potato cultivation as a marker of success. However, as productivity continues to decline and production costs increase, potato farming ultimately places medium-scale farmers in a state of uncertainty, caught between achieving tangible prosperity or merely symbolic prosperity, and between continuing to pursue prosperity through potato cultivation or abandoning it altogether.

Kata Kunci : Iming-iming Kemakmuran, Kentang, Petani Menengah, Kemakmuran Semu, Pasar

  1. S1-2026-462958-abstract.pdf  
  2. S1-2026-462958-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-462958-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-462958-title.pdf