Laporkan Masalah

Dinamika dan Peran Sosio-Kultural Vereeniging van Huisvrouwen, 1931-1939

Rehuella Sarlotha Modjo, Dr. Widya Fitria Ningsih, M.A.

2026 | Skripsi | ILMU SEJARAH

Krisis ekonomi dunia yang terjadi pada tahun 1930-an mempengaruhi setiap aspek kehidupan, termasuk aspek kerumahtanggaan. Kesulitan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sekelompok perempuan Eropa di Hindia Belanda berinisiatif untuk mendirikan asosiasi ibu rumah tangga untuk menghadapi permasalah tersebut dan mendukung satu sama lain, bernama Vereeniging van Huisvrouwen. Sejumlah perempuan Bumiputera dan Tionghoa juga turut bergabung dalam asosiasi ini. Meskipun begitu, solidaritas ibu rumah tangga lintas kelompok tidak dapat diterima begitu saja mengingat bagaimana mereka diposisikan dalam strata yang berbeda oleh otoritas kolonial. Penelitian ini berupaya untuk memaparkan proses perkembangan Vereeniging van Huisvrouwen sebagai ruang yang awalnya dibentuk oleh dan untuk perempuan Eropa dalam menghadapi krisis ekonomi 1930-an hingga proses bergabungnya perempuan Bumiputera dan Tionghoa, serta dinamika antara perempuan dari berbagai kelompok masyarakat tersebut di dalam asosiasi. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah, penelitian ini memanfaatkan majalah-majalah yang diterbitkan oleh Vereeniging van Huisvrouwen dan surat kabar sezaman yang mewartakan eksistensi asosiasi tersebut sebagai sumber primer. 
Ditemukan bahwa Vereeniging van Huisvrouwen pertama kali didirikan di Surabaya pada Juni 1931 oleh sekelompok perempuan Eropa. Di tahun-tahun berikutnya, Vereeniging van Huisvrouwen juga didirikan di kota-kota lain, seperti Batavia, Bandung, Medan, Semarang, Sukabumi, Buitenzorg, Malang, Jogjakarta, Solo, Cirebon, dan Magelang. Untuk mempermudah komunikasi dan mempererat ikatan antar asosiasi, dibentuk Bond van Vereeniging van Huisvrouwen in Indië sebagai serikat yang menaungi asosiasi di tingkat kota. Dalam perkembangannya, sejumlah perempuan Bumiputera dan Tionghoa yang turut bergabung dalam asosiasi ini merupakan perempuan-perempuan yang berasal dari kelas elit. Meskipun tidak membatasi keanggotaannya, Vereeniging van Huisvrouwen secara tidak langsung membentuk eksklusivitas dengan hanya menggunakan bahasa Belanda dalam agenda-agendanya. Agenda-agenda tersebut menjadi representasi relasi ras dan kelas dalam masyarakat kolonial Indonesia.

The Great Depression of the 1930s affected every aspect of life, including household matters. Faced with difficulties in providing for their families, a group of European women in the Dutch East Indies took the initiative to establish a housewives' association to address these issues and support one another, called the Vereeniging van Huisvrouwen. A handful of Bumiputera and Tionghoa women also joined this association. However, solidarity among housewives across different groups was not readily accepted, given how they were positioned in different strata by the colonial authorities. This study attempts to describe the development of the Vereeniging van Huisvrouwen as a space that was initially formed by and for European women in response to the economic crisis of the 1930s, as well as the process of Bumiputera and Tionghoa women joining the association and the dynamics between women from various social groups within the association. Using historical research methods, this study utilizes magazines published by the Vereeniging van Huisvrouwen and newspapers that reported on the association's existence as primary sources. 

It was found that the Vereeniging van Huisvrouwen was first established in Surabaya in June 1931 by a group of European women. In the following years, the Vereeniging van Huisvrouwen was also established in other cities, such as Batavia, Bandung, Medan, Semarang, Sukabumi, Buitenzorg, Malang, Yogyakarta, Solo, Cirebon, and Magelang. To facilitate communication and strengthen ties between associations, the Bond van Vereeniging van Huisvrouwen in Indië was formed as a union that oversaw associations at the city level. In its development, a handful of Bumiputera and Tionghoa women who joined this association were the elite women. Although it did not restrict membership, the Vereeniging van Huisvrouwen indirectly created exclusivity by only using Dutch in its agendas. These agendas represent the relationship between race and class in colonial Indonesian society.

Kata Kunci : Ibu Rumah Tangga, Krisis Ekonomi, Kerumahtanggaan, Pekerja Domestik/Housewives, Economic Crisis 1930s, Household, Domestic Workers

  1. S1-2026-478841-abstract.pdf  
  2. S1-2026-478841-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-478841-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-478841-title.pdf