Laporkan Masalah

ANALISIS PERGESERAN DAN KESEPADANAN PENERJEMAHAN SATUAN LINGUAL YANG BERELASI DENGAN HUJAN DALAM ANTOLOGI PUISI HUJAN BULAN JUNI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO KE BAHASA MANDARIN

Rachel Leona Davita Purwanto, Drs. Tatang Hariri, M.A., Ph.D.

2026 | Tesis | S2 Linguistik

Penelitian ini menganalisis terjemahan antologi puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono ke dalam bahasa Mandarin oleh T. F. Chan. Latar belakang penelitian adalah tantangan penerjemahan puisi dengan tipologi dua bahasa yang berbeda, Bahasa Indonesia yang aglutinatif ke Bahasa Mandarin yang isolatif dan tonal. Tujuan penelitian adalah mengungkap wujud pergeseran penerjemahan, mengidentifikasi ideologi penerjemahan dominan, serta menganalisis tingkat kesepadanan makna, khususnya pada satuan lingual hujan.

Studi ini bersifat deskriptif-komparatif dengan membandingkan 15 (lima belas) pasang puisi Bahasa Indonesia (TSu) dan Bahasa Mandarin (TSa). Analisis difokuskan pada pergeseran tataran kuantitas teks, tataran struktur, dan tataran semantik dengan menggunakan teori Newmark, serta teori Venuti tentang ideologi domestication dan foreignization.

Hasil menunjukkan orientasi penerjemah menerapkan ideologi domestication, yang diwujudkan melalui rekonstruksi bentuk visual puisi untuk menyesuaikan konvensi estetika puisi Tiongkok. Ditemukan juga pergeseran struktural signifikan dengan penerapan perluasan (expansion) dan pengurangan (reduction) akibat perbedaan tata bahasa, serta penerapan teknik modulasi dalam penerjemahan satuan lingual hujan untuk menyetarakan nuansa emosional dan metaforis. Penerjemah berperan sebagai jembatan yang mengutamakan keberterimaan di bahasa sasaran dan fungsi komunikatif bagi pembaca sasaran tanpa mengubah makna yang telah ada dalam TSu.

This study analyzes T. F. Chan's Mandarin Chinese translation of Sapardi Djoko Damono's poetry anthology Hujan Bulan Juni. The research addresses a fundamental challenge in literary translation: the rendering of poetry across typologically distinct languages. Indonesian is agglutinative, while Mandarin Chinese is isolating and tonal, creating significant structural and semantic obstacles. The study pursues three objectives: to identify and classify translation shifts, to determine the dominant translation ideology employed, and to evaluate the degree of semantic equivalence, with particular attention to the lingual units rain.

This descriptive-comparative study examines fifteen paired poems in Indonesian (source text) and Mandarin Chinese (target text). The analysis investigates shifts operating at three levels: text quantity, structure, and semantics. The theoretical framework draws on Newmark's translation theory and Venuti's distinction between domestication and foreignization ideologies.

The translator predominantly applies domestication ideology. This manifests through deliberate reconstruction of the poem's visual form to align with established Chinese poetic aesthetic conventions. Structural shifts emerge through two primary mechanisms: expansion and reduction techniques, necessitated by grammatical differences between the languages. Additionally, modulation techniques are applied to the lingual units rain, enabling the translator to preserve and convey its emotional and metaphorical dimensions in the target language. Ultimately, the translator functions as a cultural bridge, prioritizing both target language acceptability and communicative efficacy for Chinese readers while maintaining fidelity to the source text's essential meanings.

Kata Kunci : penerjemahan puisi, satuan lingual hujan, kesepadanan, pergeseran terjemahan, Bahasa Mandarin, Hujan Bulan Juni

  1. S2-2026-512850-abstract.pdf  
  2. S2-2026-512850-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-512850-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-512850-title.pdf