Ruang Publik Digital dalam Agenda-Setting: Opini Publik Terhadap Kebijakan Kenaikan PPN 12% di Twitter (X)
Adrian Pratama, Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, M.P.P.
2025 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)
Penelitian ini
menganalisis perdebatan publik digital yang timbul akibat rencana pemerintah
menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12%, kebijakan fiskal
yang memicu kekhawatiran beban ekonomi dan menunjukkan evolusi pembentukan
opini di era media sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan
pembentukan opini publik di Twitter (X) sebagai ruang publik digital terhadap
isu PPN 12?n menganalisis perannya dalam kerangka penetapan agenda (agenda-setting).
Menggunakan metode kualitatif yang menggabungkan analisis big data
dengan analisis sentimen, Word cloud, dan topic modelling dari
cuitan Twitter (X) dengan kerangka ruang publik digital, temuan menunjukkan bahwa
sentimen negatif mendominasi percakapan publik, mencerminkan persepsi
ketidakadilan fiskal. Twitter (X) terbukti berfungsi sebagai arena partisipatif
yang berhasil mengangkat isu teknokratis menjadi wacana publik, dan opini
publik digital memainkan peran signifikan dalam mendorong isu PPN 12% masuk ke
dalam agenda kebijakan nasional, yang ditandai dengan respons pemerintah dan
perubahan kebijaka. Penelitian ini merekomendasikan pemerintah untuk
meningkatkan transparansi, edukasi, dan mekanisme partisipasi publik dalam
perumusan kebijakan fiskal, serta memanfaatkan analisis opini publik digital
sebagai umpan balik strategis.
This study
analyzes the digital public debate that arose due to the government's plan to
increase the PPN rate to 12%, a fiscal policy that sparked concerns about the
economic burden and showed the evolution of opinion formation in the era of
social media. The objective of this study is to explain the formation of public
opinion on Twitter (X) as a digital public sphere regarding the PPN 12% issue
and to analyze its role in the framework of agenda-setting. Using a qualitative
method that combines big data using word cloud, sentiment analysis and topic
modeling of Twitter (X) tweets with a digital public sphere framework, the
findings show that negative sentiment dominates public discourse, reflecting
perceptions of fiscal injustice. Twitter (X) proved to function as a participatory
arena that successfully raised technocratic issues into public discourse, and
digital public opinion played a significant role in pushing the PPN 12% issue
onto the national policy agenda, as marked by the government's response. This
study recommends that the government improve transparency, education, and
public participation mechanisms in fiscal policy formulation, as well as
utilize digital public opinion analysis as strategic feedback.
Kata Kunci : PPN 12%, Agenda-Setting, Ruang Publik Digital, Opini Publik, Twitter (X), Analisis Sentimen