Laporkan Masalah

Menjadikan Kerinci Semakin Terbuka: Jalan Lintas Sungai Penuh-Padang, 1917-1930-an

Ilma, Prof. Dr. Bambang Purwanto

2026 | Tesis | S2 Sejarah

Penelitian ini membahas pembangunan jalan lintas Sungai Penuh–Padang pada periode 1917 hingga 1930-an sebagai bagian dari upaya pemerintah kolonial Belanda untuk membuka akses wilayah Kerinci. Sebelum pembangunan jalan raya, Kerinci merupakan daerah pedalaman yang telah memiliki hubungan dengan pantai barat Sumatera melalui jalan setapak dan jalur tradisional, meskipun mobilitas penduduk, distribusi hasil perkebunan dan pertanian, serta hubungan dagang berlangsung terbatas dan memakan waktu lama akibat kondisi geografis. Dalam konteks tersebut, Kerinci bukan sepenuhnya wilayah terasing, melainkan daerah yang terhubung secara terbatas dan berada di pinggiran jaringan ekonomi dan administrasi kolonial.

Penelitian ini berfokus pada pertanyaan mengenai bagaimana proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan jalan Sungai Penuh–Padang dilakukan, kepentingan apa yang melatarbelakanginya, serta bagaimana dampak jalan tersebut terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Kerinci. Selain itu, penelitian ini menelaah perubahan pola mobilitas, perdagangan, dan kehidupan sosial yang muncul seiring berfungsinya jalan raya tersebut, sekaligus menyoroti berbagai persoalan yang menyertainya, seperti mobilisasi tenaga kerja dan dampak kesehatan selama proses pembangunan.

Dengan menggunakan metode sejarah, penelitian ini bertumpu pada sumber-sumber arsip kolonial Belanda, laporan pemerintah, peta, serta surat kabar dan literatur sezaman. Sumber-sumber tersebut dikumpulkan, diverifikasi, dan diinterpretasikan untuk kemudian disusun secara kronologis, mulai dari kondisi Kerinci sebelum pembangunan jalan, tahap perencanaan dan konstruksi sejak 1917, hingga dampak jalan pada dekade-dekade awal setelah jalan tersebut beroperasi.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembangunan jalan lintas Sungai Penuh–Padang tidak serta-merta membebaskan Kerinci dari keterpencilan, melainkan memperlancar dan mempercepat hubungan yang telah ada sebelumnya dengan pantai barat Sumatera. Jalan ini memberi kemudahan bagi pedagang Kerinci dalam mengangkut hasil kebun dan pertanian, sekaligus mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi, terutama di Sungai Penuh. Namun, pada saat yang sama, jalan tersebut juga mempermudah perluasan kontrol pemerintah kolonial Belanda dan masuknya pengusaha asing ke wilayah Kerinci, sehingga membuka ruang eksploitasi ekonomi dan meningkatkan kerentanan sosial masyarakat setempat. Dengan demikian, pembangunan jalan Sungai Penuh–Padang merupakan proses keterbukaan wilayah yang membawa dampak ganda, baik dalam aspek ekonomi maupun dalam penguatan kekuasaan kolonial.

 

This study examines the construction of the Sungai Penuh–Padang road during the period from 1917 to the 1930s as part of the Dutch colonial government’s efforts to open access to the Kerinci region. Prior to the construction of the highway, Kerinci was an inland area that already maintained connections with the west coast of Sumatra through footpaths and traditional routes. However, the mobility of the population, the distribution of plantation and agricultural products, and commercial relations were limited and time-consuming due to geographical conditions. In this context, Kerinci was not entirely isolated, but rather a region with restricted connectivity located at the margins of the colonial economic and administrative network.

This research focuses on questions concerning how the planning and implementation of the Sungai Penuh–Padang road were carried out, the interests that motivated its construction, and the impact of the road on the social and economic conditions of the Kerinci population. In addition, the study examines changes in patterns of mobility, trade, and social life that emerged following the operation of the road, while also highlighting various issues that accompanied the construction process, such as labor mobilization and health impacts.

Using the historical method, this study is based on Dutch colonial archival sources, government reports, maps, as well as contemporary newspapers and literature. These sources were collected, verified, and interpreted, and then arranged chronologically, beginning with conditions in Kerinci prior to road construction, followed by the planning and construction stages starting in 1917, and concluding with the impacts of the road in the early decades after it became operational.

This study concludes that the construction of the Sungai Penuh–Padang road did not automatically free Kerinci from isolation, but rather facilitated and accelerated pre-existing connections with the west coast of Sumatra. The road provided greater ease for Kerinci traders in transporting agricultural and plantation products, while also encouraging the growth of economic activities, particularly in Sungai Penuh. At the same time, however, the road also facilitated the expansion of Dutch colonial control and the entry of foreign entrepreneurs into the Kerinci region, thereby opening space for economic exploitation and increasing the social vulnerability of the local population. Thus, the construction of the Sungai Penuh–Padang road represented a process of regional opening that produced dual effects, both in economic terms and in the strengthening of colonial power.

 

Kata Kunci : Kerinci, infrastruktur kolonial, keterbukaan wilayah, kontrol kolonial

  1. S2-2026-508470-abstract.pdf  
  2. S2-2026-508470-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-508470-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-508470-title.pdf