Namus, Perempuan, dan Perlawanan: PKK (Partiya Karkerèn Kurdistanê) sebagai Gerakan Perjuangan Etno-Transnasional
NACHITA PUTRI MUSSELA, Dr. Luqman-nul Hakim
2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Penelitian ini mengkaji bagaimana konsep namus––kehormatan perempuan––diartikulasikan
ulang dalam mobilisasi politik Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dengan fokus pada peran pejuang
perempuan sejak 1990-an. Melalui pendekatan Political Discourse Analysis (PDA), penelitian ini
berargumen bahwa PKK merekonstruksi namus yang semula bermakna kehormatan patriarkis
menjadi simbol kolektif perlawanan dan kemuliaan dalam perjuangan kebebasan bangsa Kurdi.
Reartikulasi namus ini berfungsi sebagai jembatan ideologis yang menghubungkan emansipasi
perempuan dengan proyek pembebasan nasional Kurdi, sekaligus menautkan pengalaman
penindasan perempuan dengan kondisi bangsa Kurdi yang tidak memiliki negara. Berakar pada
pengalaman sebagai bangsa tanpa negara, gerakan etno-transnasional PKK mengubah batas
teritorial dari garis pemisah menjadi ruang solidaritas dan identitas politik bersama. Keterlibatan
perempuan menjadi elemen sentral, tidak hanya sebagai strategi politik untuk memperluas
visibilitas gerakan, tetapi juga sebagai upaya menegosiasikan kembali norma gender tradisional,
mentransformasi identitas PKK, dan mendefinisikan ulang subjek perempuan––dari objek
kehormatan menjadi agen revolusioner dan kebebasan. Penelitian ini berkontribusi pada diskusi
mengenai politik kekerasan dan perlawanan dalam perspektif gender dan gerakan sosial,
khususnya dalam konteks perjuangan etno-transnasional yang menantang batas-batas negara-
bangsa modern.
This study examines how the concept of namus— women’s honor —is rearticulated within the
political mobilization of the Kurdistan Workers’ Party (PKK), focusing on the role of female
fighters since the 1990s. Using a Political Discourse Analysis (PDA) approach, this research
argues that the PKK reconstructs namus, originally understood as a form of patriarchal honor,
into a collective symbol of resistance and dignity within the Kurdish liberation struggle. This
rearticulation serves as an ideological bridge linking women’s emancipation to the Kurdish
national liberation project, while connecting women’s experiences of oppression to the stateless
condition of the Kurdish people. Rooted in the Kurdish experience as a nation without a state, the
PKK’s ethno-transnational movement transforms territorial boundaries from lines of separation
into spaces of solidarity and shared political identity. Women’s participation becomes central —
not only as a political strategy to expand the movement’s visibility, but also as an effort to
renegotiate traditional gender norms, transform the PKK’s identity, and redefine the female
subject from an object of honor into an agent of revolution and freedom. This study contributes
to broader discussions on the gendered politics of violence, resistance, and social movements
within the context of ethno-transnational struggles that challenge the boundaries of the modern
nation-state.
Kata Kunci : Namus, Perempuan Kurdi, PKK, Mobilisasi Politik, Gender, Feminisme Post- strukturalis, Politik Perlawanan, Etno-transnasional