Laporkan Masalah

SEBARAN DAN PERSEPSI MASYARAKAT LOKAL TERHADAP KEPUH (Sterculia foetida L.) DAN MENTAOK (Wrightia javanica A.DC.) DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAN BANTUL

Zuzud Fachriya, Ir. Prasetyo Nugroho, S.Hut., M.Sc., Ph.D. IPM.

2025 | Tugas Akhir | D4 PENGELOLAAN HUTAN

Kabupaten Gunungkidul dan Bantul merupakan bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa, dengan tradisi yang khas dan terhubung dengan alam. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) memetakan persebaran serta kondisi habitat pohon kepuh dan mentaok di Kabupaten Gunungkidul dan Bantul dan (2) mengidentifikasi persepsi masyarakat terhadap pohon kepuh dan mentaok. Metode yang digunakan meliputi wawancara untuk mengetahui persepsi masyarakat. Analisis spasial menggunakan overlay untuk mengetahui persebaran serta habitat kepuh dan mentaok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuh dan mentaok memiliki sebaran ekologis yang berbeda pada dua wilayah studi. Di Bantul ditemukan 39 individu kepuh dan 8 mentaok, sedangkan di Gunungkidul tercatat 6 kepuh dan 4 mentaok. Pola elevasi menunjukkan bahwa kepuh di Bantul lebih umum pada ketinggian 50–100 mdpl, sementara mentaok banyak dijumpai pada 100–200 mdpl; sedangkan di Gunungkidul kepuh lebih dominan di atas 200 mdpl dan mentaok pada 50–200 mdpl. Kedua spesies hidup pada curah hujan tahunan <1500>

Gunungkidul and Bantul Regencies are part of the Special Region of Yogyakarta, known as centers of Javanese culture with distinctive traditions that remain closely connected to the natural environment. This study aims to (1) map the distribution and habitat conditions of kepuh and mentaok in Gunungkidul and Bantul Regencies, and (2) identify community perceptions toward these two species. The methods employed include interviews to assess community perceptions and spatial analysis using overlay techniques to determine the distribution and habitat characteristics of kepuh and mentaok. The results of this study indicate that kepuh and mentaok exhibit different ecological distribution patterns across the two study areas. In Bantul, 39 kepuh and 8 mentaok individuals were recorded, while Gunungkidul contained 6 kepuh and 4 mentaok individuals. Elevation patterns show that kepuh in Bantul is more commonly found at 50–100 m asl, whereas mentaok occurs predominantly at 100–200 m asl; in Gunungkidul, kepuh is more frequent above 200 m asl, and mentaok at 50–200 m asl. Both species grow in areas with annual rainfall below 1500 mm and occupy various soil types, indicating broad ecological adaptability, particularly for kepuh. Local community perceptions of kepuh and mentaok are diverse and context-dependent. Kepuh is generally perceived as a multipurpose species with recognized benefits and potential drawbacks, whereas mentaok is primarily valued for its ecological and cultural roles, with limited perception of negative impacts.

Kata Kunci : Distribusi spasial, Kondisi habitat, Pandangan komunitas, Interpretasi sosial, Penilaian individu

  1. D4-2025-474543-abstract.pdf  
  2. D4-2025-474543-bibliography.pdf  
  3. D4-2025-474543-tableofcontent.pdf  
  4. D4-2025-474543-title.pdf