Laporkan Masalah

Toponimi Padukuhan di Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo: Kajian Bentuk dan Makna

Pesdhi Sekar Hayumay, Dr. Daru Winarti, M.Hum.

2026 | Skripsi | SASTRA NUSANTARA

Penelitian ini membahas toponimi padukuhan di Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan fokus pada tiga kalurahan, yaitu Kalurahan Gerbosari, Kalurahan Ngargosari, dan Kalurahan Pagerharjo. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberagaman nama-nama padukuhan yang terbentuk dari bahasa dan merupakan bagian dari warisan budaya serta mengandung nilai geografis, sosial, dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk satuan kebahasaan, makna, dan klasifikasi aspek toponimi dengan menggunakan landasan teori morfologi, semantik, dan toponimi. 
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data berupa nama-nama padukuhan yang diperoleh dari situs resmi Sistem Informasi Manajemen Aparatur Pemerintahan Kalurahan Kabupaten Kulon Progo. Selain itu, dikumpulkan data berupa asal-usul penamaan padukuhan yang diperoleh melalui wawancara atau biasa disebut dengan metode cakap. Data kemudian dianalisis menggunakan metode agih dan padan, lalu disajikan dengan metode formal dan informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk satuan kebahasaan yang ditemukan pada nama-nama padukuhan di Kapanewon Samigaluh berupa kata monomorfemis dan polimorfemis. Monomorfemis merupakan bentuk tunggal sedangkan polimorfemis merupakan bentuk kompleks yang melibatkan proses morfologis. Pada penelitian ini ditemukan proses morfologis berupa afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan. Toponimi padukuhan juga dianalisis mengenai makna leksikal, gramatikal, dan kultural. Berdasarkan makna kulturalnya, nama-nama padukuhan diklasifikasikan ke dalam empat aspek toponimi, yaitu aspek perwujudan, aspek kemasyarakatan, aspek kebudayaan, serta gabungan dari aspek-aspek tersebut.

This research discusses the toponymy of padukuhan (hamlet) in Kapanewon Samigaluh, Kulon Progo Regency, Special Region of Yogyakarta, with the focus on three kalurahan (villages), namely Kalurahan Gerbosari, Kalurahan Ngargosari, and Kalurahan Pagerharjo. This research was motivated by the diversity of padukuhan names, which are formed from language and constitute part of cultural heritage that contain geographical, social, and cultural values. This research aims to describe the form of linguistic units, meanings, and classification of toponymy aspects using the theoretical foundations of morphology, semantics, and toponymy.

This research uses a qualitative descriptive method with data in the form of padukuhan (hamlet) names obtained from the official site of Sistem Informasi Manajemen Aparatur Pemerintahan Kalurahan Kabupaten Kulon Progo. In addition, data on the origins of hamlet names were obtained through interviews, commonly referred to as the cakap method. Then, the data were analyzed using the distributional and translational methods, and presented using formal and informal methods. The results of the research showed that the linguistic units found in the hamlet names in Kapanewon Samigaluh are monomorphemic and polymorphemic words. Monomorphemic is a singular form, while polymorphemic is a complex form that involves morphological processes. In this research, the morphological processes in the form of affixation, reduplication, and compounding are also identified.  The toponymy of the hamlets was also analyzed regarding the lexical, grammatical, and cultural meanings. Based on the cultural meanings, the names of the hamlets were classified into four aspects of toponymy, which are the embodiment aspect, society aspect, cultural aspect, and a combination of these aspects.

Kata Kunci : toponimi, morfologi, makna, asal-usul, Samigaluh

  1. S1-2026-498662-abstract.pdf  
  2. S1-2026-498662-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-498662-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-498662-title.pdf