Analisis Resiliensi Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis) di Tengah Keterbatasan Sumber Daya
Tachika Altaira Widodo, Ario Wicaksono, S.I.P., M.Si., Ph.D
2026 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)
Tekanan fiskal dan keterbatasan sumber daya tidak selalu memunculkan krisis baru, melainkan mempertegas kondisi struktural yang membingkai operasional Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis) di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana OPDis membangun resiliensi organisasi dalam menghadapi keterbatasan sumber daya, khususnya yang semakin menguat dalam konteks penyesuaian kebijakan fiskal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus pada tiga OPDis yang merepresentasikan karakter organisasi berbeda, yaitu Komisi Nasional Disabilitas (KND), Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), dan Koneksi Indonesia Inklusif (KONEKIN). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan studi dokumen. Data penelitian dianalisis menggunakan kerangka resiliensi organisasi yang merujuk dari model proses Duchek (2020) dan perspektif kapabilitas resiliensi Hollnagel (2009). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya tidak menciptakan krisis yang sepenuhnya baru bagi OPDis, melainkan mempertegas kondisi struktural yang telah lama membentuk praktik pengelolaan organisasi. Resiliensi OPDis tidak diwujudkan melalui penguatan kapasitas secara menyeluruh, tetapi melalui penonjolan kapabilitas tertentu yang dianggap paling relevan untuk menjaga keberlanjutan organisasi. KND menunjukkan dominasi kapabilitas memantau (to monitor) untuk menjaga stabilitas kelembagaan dalam relasi dengan negara, PPDI menonjol pada kapabilitas merespons (to respond) melalui penguatan jejaring dan mobilisasi kolektif, sementara KONEKIN mengandalkan kapabilitas belajar (to learn) dengan inovasi berbasis pasar. Temuan ini menunjukkan bahwa resiliensi OPDis merupakan praktik adaptif yang terus dikembangkan sesuai dengan konteks dan karakteristik masing-masing organisasi.
Fiscal pressures and resource constraints are more likely to reinforce existing structural conditions than to generate entirely new crises, shaping the operational landscape of Disabled Persons’ Organizations (DPOs) in Indonesia. This study examines how DPOs build organizational resilience under conditions of persistent resource constraint, particularly as these pressures are intensified by fiscal policy adjustments. Using a qualitative case study approach, the research analyzes three DPOs representing distinct organizational configurations: the National Commission on Disability (KND), the Indonesian Disabled Persons Association (PPDI), and Koneksi Indonesia Inklusif (KONEKIN). Data were generated through in-depth interviews and document analysis. These materials were analyzed using an organizational resilience framework drawing on Duchek’s (2020) process-based model and Hollnagel’s (2009) resilience capabilities perspective. The findings demonstrate that resource constraints do not constitute a novel crisis for DPOs, but they reproduce long-standing structural conditions that have historically shaped organizational practices. Organizational resilience is not achieved through comprehensive capacity expansion, but through the selective activation of specific capabilities deemed critical for organizational sustainability. KND exhibits a dominant monitoring capability (to monitor) to maintain institutional stability in its relationship with the state; PPDI emphasizes responsive capability (to respond) through network consolidation and collective mobilization; while KONEKIN relies on learning capability (to learn) driven by market-based innovation. Overall, the study conceptualizes DPO resilience as an adaptive and differentiated process, continuously shaped by organizational characteristics and contextual constraints.
Kata Kunci : resiliensi organisasi, organisasi penyandang disabilitas, keterbatasan sumber daya, tata kelola publik, kapabilitas organisasi