Analisis perkembangan wilayah kecamatan Gamping kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta
Muammar Gomareuzzaman, Agus Joko Pitoyo,S.Si., M.A.
2009 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANDaerah pinggiran merupakan daerah yang secara administratif berbatasan langsung dengan desa dan kota. Secara administratif Kecamatan Gamping berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta. Hal tersebut menyebabkan perkembangan wilayah dan berbagai kemajuan di Kecamatan Gamping berkembang relatif cepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan potensi wilayah, bentuk dan pola spasial penggunaan lahan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan wilayah Kecamatan Gamping. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis data sekunder dan studi pustaka. Variabel yang dipergunakan meliputi: data penggunaan lahan, data kependudukan, serta ketersediaan sarana dan prasarana dalam waktu 10 tahun. Data primer yang digunakan diperoleh dari hasil studi lapangan, survei dan dokumentasi. Perhitungan Location Quotient menunjukkan bahwa sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor industri pengolahan merupakan sektor-sektor basis dengan memberikan masukan besar terhadap PDRB sehingga merupakan potensi yang perlu dikembangkan. Bentuk penggunaan lahannya meliputi lahan terbangun dengan pola mengikuti jalur transportasi dan tidak terbangun dengan pola menyebar. Selain karena pengaruh dominan faktor lingkungan fisik, juga dipengaruhi oleh kehidupan sosial ekonomi.
Suburban area is an area that in administrative directly borders on a village or town. Administratively Gamping subdistrict directly borders on Yogyakarta City. This fact causes regional development and advancements of Gamping Subdistrict precociously. The purpose of this research is to determine area potency, shape and spasial landuse pattern, and various factors affecting of Gamping Subdistrict regional development. The data analysis methods used in this research are secondary data analysis and literature study. The variables involved include: landuses data, population data, and also availability of infrastructure within 10 years. The primary data are obtained from field study, survey and documentation. Location quotient calculation shows that trading, hotel and restaurant sector and manufactural industry sector, are basic sectors which assign great value for PDRB and as potencial sectors which amendable. Landuse shape include costructed land with follow transportation lines and unconstructed land with separated pattern, caused by not only physical environment as dominan factor but also caused by social and economic life.
Kata Kunci : Perkembangan, wilayah, potensi, bentuk dan pola spasial, sarana dan prasarana,Development, regional, potency, shape and spasial pattern, infrastructure