Tata Ruang Kompleks Pabrik Gula Tasikmadu Kabupaten Karanganyar, Jawa tengah
SALSABILA FADIA RAHMI, Mimi Savitri, S.S., M.A., Ph.D.
2026 | Skripsi | ARKEOLOGI
Industri gula di Indonesia telah berkembang sejak abad ke-17 dan mengalami pertumbuhan pesat pada masa kolonial, khususnya di Pulau Jawa. Di wilayah Vorstenlanden, terutama Mangkunegaran, industri gula berkembang seiring masuknya modal swasta barat dan kebijakan Politik Pintu Terbuka. Salah satu peninggalan penting dari perkembangan tersebut adalah Pabrik Gula Tasikmadu yang didirikan oleh Mangkunegara IV pada tahun 1871. Pabrik ini telah berhenti beroperasi pada tahun 2021 dan PG Tasikmadu menjadi objek penelitian yang menarik untuk dikaji karena belum pernah diteliti secara arkeologis dan masih tersedia tinggalan materialnya. Tinggalan material yang masih ada antara lain berupa bangunan-bangunan yang tersebar dan berhubungan dengan industri gula, yang secara keseluruhan membentuk pola tata ruang yang saling berkaitan. Pola tata ruang ini dikaji menggunakan pendekatan arkeologi keruangan tingkat skala meso. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola tata ruang PG Tasikmadu agar dapat menjelaskan efektivitas produksi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitis yang diawali dengan pengumpulan data, pengolahan data, analisis, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan pola tata ruang kompleks PG Tasikmadu dikaji melalui analisis tingkat skala meso memiliki keterkaitan satu sama lain. Kompleks PG Tasikmadu terdiri dari kompleks bangunan inti dan kompleks perumahan pegawai. Kompleks bangunan inti memiliki pola tata ruang yang didasarkan pada aspek fungsional dan sistematis yang bertujuan untuk efektivitas dan efisiensi produksi. Sementara itu, kompleks perumahan pegawai memiliki pola tata ruang yang didasarkan pada aspek struktural sesuai dengan tingkat jabatan pegawai.
The sugar industry in Indonesia has been developing since the 17th century and experienced rapid growth during the colonial period, particularly on the island of Java. In the Vorstenlanden region, especially Mangkunegaran, the sugar industry expanded alongside the influx of Western private capital and open-door political policies. One significant legacy of this development is the Tasikmadu Sugar Factory, established by Mangkunegara IV in 1871. This factory ceased operations in 2021, and Tasikmadu Sugar Factory has become an interesting research subject because it has never been studied archaeologically and its material remains are still available. The existing material remains include buildings scattered around that are related to the sugar industry, which together form an interrelated spatial layout. This spatial layout is examined using a meso-scale spatial archaeology approach. This research aims to understand the spatial layout pattern of Tasikmadu Sugar Factory in order to explain production efficiency. The method used is an analytical descriptive method, starting with data collection, data processing, analysis, and conclusion. The results of the study show that the spatial layout pattern of the Tasikmadu Sugar Factory complex, when examined through meso-scale analysis, is interconnected. The Tasikmadu Sugar Factory complex consists of the core building complex and the employee housing complex. The core building complex has a spatial layout pattern based on functional and systematic aspects aimed at production effectiveness and efficiency. Meanwhile, the employee housing complex has a spatial layout pattern based on structural aspects according to the employees' level of position.
Kata Kunci : Tata Ruang, Pabrik Gula Tasikmadu, Kajian Ruang Skala Meso, Bangunan, Mangkunegara