Laporkan Masalah

Pariwisata Berkualitas: Analisis Pertukaran Sosial Dan Pengalaman Wisata Di Nagari Tuo Pariangan

Elsa Philiani, Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A., Ph.D.

2026 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah

Penelitian ini mengkaji kualitas pengalaman wisata yang terdiri dari tujuh variabel dan dinamika pertukaran sosial sudut pandang pengunjung dan pelaku yang terdiri dari lima variabel, dalam pariwisata di Nagari Tuo Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Menggunakan pendekatan deduktif deskriptif dan metode mixed methods concurrent triangulation, penelitian ini menganalisis enam kegiatan wisata yang terdiri dari keliling cagar budaya, Pacu Jawi, Rayo Anam, wisata kuliner, serta menginap di Rumah Gadang dan Rumah Modern. Data dikumpulkan melalui kuesioner terhadap 131 responden, wawancara mendalam dengan 14 narasumber, observasi partisipatif, dan kajian dokumen.

Temuan menunjukkan bahwa pariwisata berkualitas tidak ditentukan oleh satu dimensi tunggal, melainkan perpaduan khas antara tujuh unsur pengalaman wisata dan lima dimensi pertukaran sosial. Rayo Anam sebagai wisata tradisi mencapai skor tertinggi (skor >4,1) melalui partisipasi aktif komunitas dan rasa kebersamaan yang kuat. Pacu Jawi menghadirkan paradoks menarik yaitu, keaslian objektif tertinggi (4,83) dengan keterlibatan konvensional terendah (2,86), digantikan dengan keterlibatan menilai sapi pacu oleh penonton. Menginap di Rumah Modern menghasilkan kepuasan tinggi melalui interaksi berkualitas, bahkan mengungguli wisata dengan autentisitas budaya yang tinggi.

Dari sisi pertukaran sosial, penelitian membuktikan bahwa imbalan kepuasan emosional dapat mengungguli perhitungan ekonomi yang bersifat rasional. Keberlanjutan hubungan ditentukan oleh keseimbangan antara imbalan materi dan non materi, pembagian keuntungan yang adil, diversifikasi pelaku, dan kualitas interaksi. Penelitian ini menemukan konsep pariwisata komunal yang menekankan pada pelaku sekaligus pengunjung, ‘pertunjukan’ untuk kepuasan pribadi pelaku, tradisi agama dan budaya sebagai wisata lokal yang memuaskan, keikutsertaan dalam  penilaian kolektif. Semua temuan ini menantang kemapanan teoretis Barat yang bias pada pertukaran ekonomi yang terukur dan bersifat individualistis.

This research explores the quality of tourist experiences, encompassing seven analytical variables, and the dynamics of social exchange from both visitors’ and hosts’ perspectives, represented by five dimensions, within the tourism practices of Nagari Tuo Pariangan, Tanah Datar Regency. Employing a deductive–descriptive framework and a concurrent triangulation mixed-methods design, the study investigates six types of tourism activities: cultural heritage tours, Pacu Jawi (bull racing), Rayo Anam (traditional ceremony), culinary tourism, and overnight stays in both Rumah Gadang (traditional Minangkabau houses) and modern houses. Data were gathered through questionnaires involving 131 respondents, in-depth interviews with 14 key informants, participatory observations, and document analyses.

The findings indicate that tourism quality emerges not from a single determinant, but from a distinctive synergy between the seven components of the tourist experience and the five dimensions of social exchange. Rayo Anam, representing traditional tourism, achieved the highest quality score (>4.1) through robust community participation and a profound sense of collective belonging. Conversely, Pacu Jawi demonstrates an intriguing paradox—exhibiting the highest degree of objective authenticity (4.83) yet the lowest level of conventional engagement (2.86)—wherein audience involvement manifests through evaluative participation in judging the bull races. Stays in modern houses generated remarkably high satisfaction, driven by the quality of interpersonal interaction, even surpassing activities with greater cultural authenticity.

From the social exchange perspective, the study reveals that emotional gratification can surpass rational economic considerations. The sustainability of social relations is governed by a nuanced equilibrium between material and non-material rewards, equitable benefit distribution, diversification of actors, and the quality of interpersonal engagement. Ultimately, this research proposes the concept of communal tourism, emphasizing participants who simultaneously act as performers and visitors, performances motivated by intrinsic fulfillment, and religious and cultural traditions as gratifying forms of local tourism. This challenges Western theoretical paradigms that privilege calculative, individualistic, and economically driven models of exchange.

Kata Kunci : pariwisata berkualitas, pengalaman wisata, pertukaran sosial, wisata tradisi, partisipasi, Nagari Tuo Pariangan

  1. S2-2026-529537-abstract.pdf  
  2. S2-2026-529537-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-529537-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-529537-title.pdf