Laporkan Masalah

Gambaran Praktik DAGUSIBU Produk Basic Skincare pada Mahasiswa Klaster Nonkesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta

Ayudetia Cahya Nabila, Dr. apt. Niken Nur Widyakusuma, M.Sc. ; Prof. Dr. apt. Susi Ari Kristina,S.Farm, M.Kes.

2026 | Skripsi | FARMASI

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan skincare di kalangan mahasiswa, tetapi masih banyak yang belum mengetahui cara menggunakan produk dengan benar. Penggunaan skincare yang tidak tepat dapat menurunkan efektivitas dan menimbulkan efek tidak diinginkan. Untuk meningkatkan keamanan penggunaan kosmetik, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) memperkenalkan konsep DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang). Penerapan konsep ini menjadi penting bagi mahasiswa klaster nonkesehatan yang belum memiliki dasar pengetahuan terkait kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui praktik DAGUSIBU dalam penggunaan basic skincare oleh mahasiswa klaster nonkesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penelitian menggunakan desain non-eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian mencakup Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, dan Universitas Islam Indonesia. Sampel ditentukan menggunakan rumus Lemeshow dan teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner terstruktur yang telah divalidasi mengenai sosiodemografi dan praktik DAGUSIBU. Pengumpulan data dilakukan melalui Google Form dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif.

Didapatkan total responden yaitu sebanyak 134 mahasiswa. Pada aspek Dapatkan, mahasiswa paling banyak memperoleh produk melalui e-commerce (82,8%), memilih berdasarkan nama atau kandungan (85,1%), serta menjadikan kandungan sebagai faktor utama pembelian (76,1%), tetapi hanya 46,3% yang mengecek nomor izin edar. Pada aspek Gunakan, sebagian tidak selalu membaca label (51,5%), meskipun mayoritas mengikuti petunjuk penggunaan (62,7%), dan memperoleh informasi dari media digital (85,8%). Pada aspek Simpan, mahasiswa banyak mendapatkan informasi dari media digital (79,1%), menjauhkan produk dari sinar matahari (67,9%), dan membaca PAO (44,0%). Pada aspek Buang, sebagian besar membuang produk saat habis (94,0%) dan mendapatkan informasi pembuangan dari media digital (70,9%), tetapi masih banyak yang membuang kemasan tanpa memilah (62,7%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik DAGUSIBU pada mahasiswa nonkesehatan masih bervariasi. Hasil ini dapat menjadi acuan dilakukannya edukasi penggunaan basic skincare yang aman dan tepat.

This study was conducted in response to the increasing use of skincare products among university students, many of whom still lack proper knowledge on how to manage these products safely. Inappropriate skincare use may reduce product effectiveness and potentially cause skin problems. To enhance the safe use of cosmetic products, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) introduced the DAGUSIBU concept (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang), which is especially important for non-health cluster students who do not have a health-related background. This research aims to assess the implementation of DAGUSIBU practices in the use of basic skincare products among non-health cluster students in the Special Region of Yogyakarta.

This study employed a non-experimental design with a cross-sectional approach. Respondents were students from Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, and Universitas Islam Indonesia. Samples were selected using the Lemeshow formula and convenience sampling. Data were collected using a structured questionnaire distributed validated via Google Form and analyzed descriptively.

A total of 134 students were interviewed. In the Get aspect, most students obtained products through e-commerce (82,8%), chose based on name or ingredients (85,1%), and used ingredients as the primary purchasing factor (76,1%), but only 46,3% checked the distribution permit number. In the Use aspect, some did not always read the label (51,5%), although the majority followed the instructions for use (62,7%), and obtained information from digital media (85,8%). In the Store aspect, students mostly obtained information from digital media (79,1%), kept the product away from sunlight (67,9%), and read the PAO (44,0%). In the Dispose aspect, most threw away the product when it was finished (94,0%) and obtained disposal information from digital media (70,9%), but many still threw away the packaging without sorting (62,7%). The results showed that DAGUSIBU practices among non-health students still varied. These results can be a reference for providing education on the safe and appropriate use of basic skincare.

Kata Kunci : basic skincare, DAGUSIBU, mahasiswa nonkesehatan, praktik penggunaan skincare

  1. S1-2026-502613-abstract.pdf  
  2. S1-2026-502613-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-502613-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-502613-title.pdf