Peranan Bilateral Investment Treaty dalam Pelindungan Hukum dan Dampak Pengakhirannya terhadap Investor Asing di Indonesia: Studi Kasus Churchill Mining v. Indonesia
Richard Yonathan Sinaga, Dina Widyaputri Kariodimedjo, S.H., LL.M., Ph.D.
2026 | Skripsi | ILMU HUKUM
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis peranan
Bilateral Investment Treaty (BIT) dalam memberikan pelindungan hukum bagi
investor asing, serta mengkaji dampak hukum dari pengakhiran BIT terhadap iklim
investasi di Indonesia dengan mengambil studi kasus Churchill Mining melawan
Indonesia. Permasalahan ini menjadi relevan mengingat pergeseran kebijakan
Indonesia yang sejak tahun 2015 secara bertahap mengakhiri berbagai BIT,
termasuk dengan Inggris, yang sebelumnya menjadi dasar pelindungan hukum bagi
investor asing di forum arbitrase internasional.
Metode penelitian yang digunakan adalah normatif-yuridis dengan sifat
deskriptif-analitis. Data penelitian diperoleh melalui studi kepustakaan dengan
mengkaji bahan hukum primer berupa peraturan perundang-undangan nasional,
perjanjian internasional, putusan arbitrase ICSID, dan bahan hukum sekunder serta
tersier yang relevan. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif untuk
memahami implikasi pembatalan BIT, khususnya terkait prinsip Fair and Equitable
Treatment (FET), pelindungan terhadap ekspropriasi, dan mekanisme penyelesaian
sengketa internasional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan BIT berperanan penting
dalam memberikan kepastian hukum dan jaminan pelindungan bagi investor asing,
termasuk akses terhadap forum arbitrase internasional. Namun, pengakhiran BIT
oleh Indonesia membawa konsekuensi terhadap berkurangnya kepastian hukum
yang dapat memengaruhi kepercayaan investor. Kasus Churchill Mining melawan
Indonesia mencerminkan ketegangan antara kedaulatan negara dalam mengatur
sumber daya alam dengan kewajiban melindungi hak investor asing. Oleh karena
itu, diperlukan keseimbangan antara kepentingan nasional dan komitmen hukum
internasional agar Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas iklim investasi
sekaligus menegakkan kedaulatannya.
This research aims to examine the role of Bilateral Investment Treaties
(BITs) in providing legal protection for foreign investors and to analyse the legal
consequences of BIT termination on the investment climate in Indonesia, with a
particular focus on the case of Churchill Mining v. Indonesia. This issue is highly
relevant considering Indonesia’s policy shift since 2015 to gradually terminate
several BITs, including with the United Kingdom, which previously served as the
legal foundation for investor protection in international arbitration forums.
The research applies a normative juridical method with a descriptive
analytical approach. Data were collected through a literature study, involving
primary legal materials such as national legislation, international treaties, and
ICSID arbitral awards, as well as relevant secondary and tertiary sources. The data
were qualitatively analysed to assess the implications of BIT termination, especially
concerning the principles of Fair and Equitable Treatment (FET), protection
against expropriation, and mechanisms for international dispute settlement.
The findings indicate that BITs play a vital role in ensuring legal certainty
and protection for foreign investors, including granting access to international
arbitration forums. However, Indonesia’s decision to terminate BITs has reduced
legal certainty, potentially undermining investor confidence. The Churchill Mining
case illustrates the tension between a state’s sovereign right to regulate its natural
resources and its obligation to protect foreign investors. Therefore, a balance must
be maintained between national interests and international legal commitments to
safeguard Indonesia’s investment climate while upholding state sovereignty.
Kata Kunci : Bilateral Investment Treaty, Investor, Fair and Equitable Treatment, Ekspropriasi, ICSID, Churchill Mining