Laporkan Masalah

Kajian geografi politik hasil pemilihan umum secara langsung (Pilpres 2004, Pilkada 2005 dan Pilgub 2008) di kota Magelang

Ivan Lilin Suryono, Dr. Luthfi Muta'ali, M.T.

2009 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAH

Pemilu adalah sebuah instrumen pergantian kekuasaan secara damai diantara kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai perbedaan kepentingan yang beranekaragam. Pemilu secara langsung memberikan tempat tertinggi bagi suara rakyat untuk menentukan kepala pemerintahan pada tingkatan nasional, provinsi maupun kota/kabupaten. Hasil pemilu secara langsung merupakan sebuah wujud pemilihan pemimpin yang dilaksanankan secara demokratis dalam politik Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pola keruangan perolehan suara hasil pemilihan umum secara langsung. (2) Mengetahui faktor-faktor regional yang mempengaruhi persebaran suara hasil pemilihan secara langsung. (3) Mengetahui pergeseran suara masyarakat dalam pemilihan secara langsung. Penelitian ini menggunakan metode analisis data sekunder yang bersifat deskriptif dengan unit analisis kelurahan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan keruangan yaitu suatu pendekatan yang mempelajari perbedaan lokasi mengenai sifat-sifat penting atau seri sifat-sifat penting. Untuk mengetahui pola keruangan menggunakan Location Quotient (LQ). Koefisien Spesialisasi (KS) dan Koefisien Lokalisasi (KL). Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor regional terhadap hasil pemilihan umum secara langsung. Untuk mengetahui pergeseran suara dengan membandingan daerah basis suara di semua pemilihan. Perolehan suara dalam pemilihan langsung di Kota Magelang menunjukkan persaingan antara Partai Golkar dengan PDIP. Daerah basis suara kandidat yang didukung Partai Golkar cenderung berada di kelurahan-kelurahan wilayah Kecamatan Magelang Utara, sedangkan yang di dukung PDIP cenderung berada. Persebaran hasil pemilihan umum secara langsung tersebar secara merata dimana spesialisasi kandidat terjadi di Kelurahan Rejowinangun Utara, Kramat, Kemirirejo. Potrobangsan, Panjang, dan Wates. Faktor regional yang terdiri dari demografi (kepadatan penduduk, kelompok umur muda, persentase perempuan), sosial ekonomi (pekerjaan TNI/PNS, pedagang, buruh, rumah tangga miskin, pendidikan universitas), keagamaan (jumlah penduduk Islam, infrastruktur keislaman, pondok pesantren, jumlah penduduk Kristen/Katolik, infrastruktur Kristen/Katolik) dan jarak dari pusat kota berpengaruh terhadap hasil pemilihan umum secara langsung, dimana faktor sosial ekonomi menjadi faktor yang besar dan nyata pengaruhnya. Berdasarkan persebaran daerah basis dalam pemilihan umum secara langsung, Kelurahan Tidar, Magersari, Rejowinangun Utara, Kemirirejo dan Panjang adalah kelurahan yang stabil untuk mendukung kandidat dari PDIP. Kelurahan Jurangombo, Magelang. Wates, Potrobangsan dan Kramat adalah kelurahan yang stabil kandidat dari Partai Golkar. Sedangkan di Kelurahan Cacaban dan Rejowinangun Selatan mudah terjadi pergeseran dalam mendukung kandidat.

Election is peacefully instrument of power succession among groups of people who have various interests. Direct election gives the highest place for voters to elect government leaders in national level, provincial, municipality/regency. The result of direct election is viewed as a presentation of democratic system run in Indonesia. The research aims to; (1) acknowledge the spatial pattern of vote acquirement as the result of direct election, (2) acknowledge regional factors that influence the distribution of the vote, (3) acknowledge the people vote friction in direct election. This research uses descriptive analytical method of secondary data which uses sub-districts area as the analysis unit. The research also uses spatial approach, which studies the difference of locations based on each locations important character. The spatial approach used to figure out the significant characters of each location would apply location quotient (1.Q), Specialization Coefficient (SC), and Localization Coefficient (LC). Correlation analysis is used to find the relation of regional factors towards the result of the election. It also to map the public friction by making comparisons of vote bases throughout all election. The result of the direct election in Magelang, a municipality in Central Java Provinces shows a tough competition between Golkar Party and Indonesia Democratic Party-Struggle (PDIP). Votes for candidates from Golkar Party tend to increase in sub-districts of North Magelang, while PDIP tend to affirm its strong position in South Magelang. The election results distribution is spread out in some levels but however there are several areas indicating certain candidates winnings such as North Rejowinangun sub-districts, Kramat, Kemirirejo, Potrobangsan, Panjang, and Wates sub-district. Regional factors consisting of demography (density, group of young, percentage of women); social-economy (civil servant/military, merchant, labour, poor family, higher education in university); religion (number of Moslems, Islamic infrastructures, Islamic boarding houses, number of Christians. Christian infrastructures); the distance from sub-districts to downtown effects to the result of direct election of which the social-economy factors have become the most significant influence. Based on the distribution of bases area in direct election, Tidar, Magersari, North Rejowinangun, Kemirirejo and Panjang sub-districts are stable sub-districts in giving support to the candidate of PDIP while Jurangombo, Magelang, Wates, Potrobangsan, and Kramat sub-districts are stable sub-districts which support the candidate of Golkar Party, on the contrary Cacaban and South Rejowinangun sub-districts are rather sensitive in supporting the candidate

Kata Kunci : Pemilu secara langsung, Pola keruangan, Faktor regional. Perolehan suara,Direct election, Spatial pattern, Regional Factors, Votes acquirement

  1. S1-2009-130105-Abstract.pdf  
  2. S1-2009-130105-Bibliography.pdf  
  3. S1-2009-130105-TableofContent.pdf  
  4. S1-2009-130105-Title.pdf