“NGAPONG” DI BATAS-BATAS YANG TAK PERNAH SELESAI: KEHIDUPAN AMFIBI KAMPUNG LAUT DI TENGAH PROYEK STABILISASI DAN PROSES TERITORIALISASI PERAIRAN SEGARA ANAKAN, CILACAP
Faith Liberta A'ieda Muhammad, Dr. Agung Wicaksono, M.A.
2026 | Tesis | S2 Antropologi
Tesis ini mengkaji kehidupan amfibi masyarakat Kampung Laut, Segara Anakan, Cilacap, sebagai cara hidup di dalam wilayah yang tidak pernah sepenuhnya selesai ditata. Dengan menggunakan kerangka Boelens dkk. (2016, 2025) hidrosocial territory, sebagai konseptualisasi ke-tidak selesaian, penelitian ini menelusuri bagaimana proyek-proyek stabilisasi dan proses teritorialisasi negara berhadapan dengan dinamika material air, sedimen, dan vegetasi di kawasan laguna–estuari Segara Anakan. Melalui penelitian etnografis, ditopang kajian arsip dan analisis hidrososial, tesis ini menelusuri bagaimana Segara Anakan dibayangkan, diintervensi, dan diatur sejak masa kolonial hingga proyek-proyek kontemporer seperti Citanduy I–II dan program stabilisasi laguna (SACDP).
Temuan penelitian menunjukkan bahwa imajinasi stabilitas negara diwujudkan melalui infrastruktur hidraulik berskala besar, penataan administratif, serta praktik kartografis yang mengandaikan batas wilayah yang tetap dan aliran air yang dapat dikendalikan. Namun, materialitas Segara Anakan yang ditandai oleh pasang surut, pergeseran alur air, proses sedimentasi dan pertumbuhan mangrove secara konsisten menggagalkan upaya tersebut, sehingga teritorialisasi selalu berada dalam kondisi on making. Infrastruktur yang ditujukan untuk menstabilkan wilayah justru memproduksi bentuk-bentuk baru ketidakpastian, stagnasi, dan fragmentasi ruang.
Dalam kondisi ini, masyarakat Kampung Laut hidup sebagai amphibious subject yang historis melalui sejarah kolonial hingga berbagai intervensi ruang Segara Anakan, sehingga kehidupan selalu berada dalam ketidakstabilan yang terus berlangsung. Kehidupan amfibi tidak dipahami sebagai adaptasi ekologis atau ketahanan, melainkan sebagai praktik sosial-politik sehari-hari untuk hidup di wilayah yang secara material dan teritorial tidak pernah selesai. Tesis ini berargumen bahwa Segara Anakan bukan sekadar ruang pembangunan yang gagal, melainkan sebuah wilayah tak selesai (unfinished territory) di mana kehidupan berlangsung melalui negosiasi terus-menerus dengan ketidakpastian material.
This thesis examines amphibious life among Kampung Laut communities in Segara Anakan, Cilacap, as a mode of living within a territory that is never fully settled or completed. Drawing on the hydrosocial territory framework developed by Boelens et al. (2016, 2025) as a conceptualization of territorial unfinishedness, the study explores how state-led stabilization projects and processes of territorialization confront the material dynamics of water, sediment, and vegetation in the lagoon–estuarine landscape. Based on ethnographic fieldwork, supported by archival research and hydrosocial analysis, the thesis traces how Segara Anakan has been imagined, intervened in, and governed from the colonial period to contemporary projects such as Citanduy I–II and the Segara Anakan Conservation and Development Program (SACDP).
The findings demonstrate that the state’s imagination of stability is materialized through large-scale hydraulic infrastructures, administrative reorganization, and cartographic practices that presume fixed territorial boundaries and controllable water flows. However, the materiality of Segara Anakan, characterized by tidal rhythms, shifting watercourses, sedimentation processes, and mangrove growth consistently disrupts these efforts, rendering territorialization perpetually on making. Infrastructure designed to stabilize the territory instead generates new forms of uncertainty, stagnation, and spatial fragmentation.
Within these conditions, Kampung Laut communities develop amphibious practices to sustain their livelihoods amid ongoing instability. Amphibious life is not understood here as ecological adaptation or biological resilience, but as a set of everyday socio-political practices for inhabiting a territory that remains materially and territorially unfinished. This thesis argues that Segara Anakan should not be seen merely as a site of failed development, but as an unfinished territory in which life persists through continuous negotiation with material uncertainty.
Kata Kunci : Amphibious life, unfinished territory, stabilization, territorialization, hydrosocial relations, Segara Anakan, Kampung Laut