Laporkan Masalah

The Environmental Aspects of Ibu Kota Nusantara in Indonesia’s Capital Relocation: Comparative Analysis of Mass Media from Tempo and Detik Using the Narratives Policy Framework (2023-2025)

Hikhmal Dewayani, Dr. Pradhikna Yunik Nurhayati

2026 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)

Penelitian ini menganalisis bagaimana media massa Indonesia membangun narasi lingkungan mengenai pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan menggunakan Narrative Policy Framework (NPF). Dengan menerapkan analisis isi kualitatif, penulis membandingkan 52 artikel berita daring yang diterbitkan oleh Tempo dan Detik pada periode 2023–2025 untuk mengkaji unsur-unsur naratif, termasuk latar, pernyataan masalah, mekanisme kausal, tokoh, alur cerita, serta pesan moral (pelajaran kebijakan) dalam pemberitaan masing-masing media. Temuan penelitian menunjukkan konstruksi narasi yang kontras: Detik secara konsisten menggambarkan pemerintah dan Otorita IKN sebagai pahlawan yang memimpin transformasi “hijau”, dengan membingkai kebijakan lingkungan sebagai tantangan teknokratis dan manajerial. Sebaliknya, Tempo.co memposisikan pemerintah sebagai tokoh antagonis utama yang bertanggung jawab atas deforestasi, penggusuran masyarakat adat, dan degradasi ekologis, sementara organisasi masyarakat sipil, peneliti, dan komunitas lokal muncul sebagai pahlawan moral yang membela keadilan lingkungan. Perbedaan penggambaran ini menunjukkan bagaimana media massa berfungsi sebagai aktor naratif yang membentuk legitimasi serta memperebutkan wacana kebijakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa isu-isu lingkungan dalam perdebatan IKN tidak hanya merupakan persoalan teknis, tetapi juga narasi moral dan politik yang diperdebatkan, yang mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara legitimasi birokrasi dan akuntabilitas demokratis dalam tata kelola lingkungan di Indonesia.

This study analyzes how Indonesian mass media construct environmental narratives surrounding the relocation of the national capital from Jakarta to Ibu Kota Nusantara (IKN) using the Narrative Policy Framework (NPF). Employing qualitative content analysis, the author compares 52 online news articles published by Tempo and Detik between 2023 and 2025 to examine narrative elements, including settings, statements of the problems, causal mechanisms, characters, plots, and morals (policy lessons) within each outlet’s coverage. The findings reveal contrasting narrative constructions: Detik consistently portrays the government and the IKN Authority as heroes leading a “green” transformation, framing environmental policy as a technocratic and managerial challenge. Conversely, Tempo.co positions the government as the primary villain responsible for deforestation, indigenous displacement, and ecological degradation, while civil society organizations, researchers, and local communities emerge as moral heroes defending environmental justice. These divergent portrayals illustrate how mass media function as narrative actors that shape legitimacy and contest policy discourse. The study concludes that environmental issues within the IKN debate are not only technical issues but also contested moral and political narratives, reflecting broader tensions between bureaucratic legitimacy and democratic accountability in Indonesia’s environmental governance.

Kata Kunci : Detik, environmental aspects, Ibu Kota Nusantara (IKN), mass media, Narrative Policy Framework (NPF), Tempo

  1. S1-2026-497784-abstract.pdf  
  2. S1-2026-497784-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-497784-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-497784-title.pdf