Glottalization in Hiatus Resolution: An Acoustic-Phonetic Study of Indonesian-Accented English
Neysa Nasywa, Dr. Aris Munandar, M.Hum.
2026 | Skripsi | SASTRA INGGRIS
Umumnya, penyisipan semivokal—atau linking—digunakan dalam bahasa Inggris lisan untuk menangani hiatus vokal (Davidson & Erker, 2014). Namun, penelitian terbaru, mengidentifikasi glotalisasi (baik penyisipan hentian glotal maupun glotalisasi non-kanonik) sebagai alternatif yang sering digunakan, terutama di batas kata (Davidson & Erker, 2014). Selain itu, studi di komunitas yang beragam secara etnolinguistik menunjukkan bahwa glotalisasi meningkatkan kejelasan, sehingga semakin umum digunakan dalam konteks multibahasa (Gibson et al., 2022; Penney et al., 2024). Penelitian ini mengkaji resolusi hiatus dalam bahasa Inggris beraksen Indonesia atau Indonesian-accented English (IAE), sebuah variasi yang terbentuk melalui kontak dengan bahasa Indonesia dan bahasa daerah (Lauder, 2020; Syam et al., 2024). Data yang dikumpulkan dari 26 mahasiswa program studi Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, berupa 624 token audio dari 24 item stimulus dalam konteks hiatus batas kata di mana vokal pertama adalah vokal non-rendah, konteks yang umumnya mendukung linking (Itô & Mester, 2009, dikutip dalam Davidson & Erker, 2014). Menggunakan kerangka dari Allerton (2000), Davidson dan Erker (2014), dan Šimá?ková dkk. (2014), tiga strategi resolusi hiatus—penyisipan hentian glotal, glotalisasi non-kanonik, dan linking—diidentifikasi berdasarkan karakteristik akustiknya dalam perangkat lunak Praat (Boersma & Weenink, 2022). Hasil menunjukkan preferensi yang kuat terhadap penyisipan hentian glotal (45%) dan glotalisasi non-kanonik (41%), dibandingkan dengan linking (5%). Model statistik menunjukkan bahwa penyisipan hentian glotal lebih mungkin terjadi sebelum vokal yang ditekan (p < 0>linking sangat tidak mungkin terjadi dalam konteks yang sama (p < 0>World Englishes (Kachru, 1985).
Canonically, glide insertion—or linking—is used in spoken English to resolve vowel hiatus (Davidson & Erker, 2014). Recent research, however, identifies glottalization (both glottal stop insertion and non-canonical glottalization) as a frequent alternative, particularly at word boundaries (Davidson & Erker, 2014). Furthermore, studies in ethnolinguistically diverse communities suggest that glottalization enhances clarity, making it increasingly common in multilingual contexts (Gibson et al., 2022; Penney et al., 2024). This study investigates hiatus resolution in Indonesian-accented English (IAE), a variety shaped by contact with Indonesian and regional languages (Lauder, 2020; Syam et al., 2024). Data were collected from 26 English Studies Program undergraduates at Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, producing 624 audio tokens from 24 stimulus items in word-boundary hiatus environments where the first vowel was a non-low vowel, an environment typically favors linking (Itô & Mester, 2009, as cited in Davidson & Erker, 2014). Using frameworks from Allerton (2000), Davidson and Erker (2014), and Šimá?ková et al. (2014), three hiatus resolution strategies—glottal stop insertion, non-canonical glottalization, and linking—were identified by their acoustic characteristics in the Praat software (Boersma & Weenink, 2025). The results indicate a strong preference for glottal stop insertion (45%) and non-canonical glottalization (41%), over linking (5%). Statistical modeling shows glottal stop insertion was significantly more likely to be realized before stressed vowels (p < .05), while linking was very significantly less likely in the same context (p < .01). These findings observe glottalization as an important strategy for resolving vowel hiatus in English and further document IAE as a variety within the World Englishes framework (Kachru, 1985).
Kata Kunci : acoustic phonetics, glottalization, hiatus resolution, Indonesian-accented English (IAE), World Englishes