Melihat Kerentanan Petani Garam di Pesisir Utara Jawa: Studi Kasus Petani Garam di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang
DUMA SYAHRAZADINA, Prof. Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Garam merupakan salah satu bahan yang banyak dimanfaatkan oleh berbagai sektor, baik industri maupun rumah tangga. Meskipun begitu, petani garam sebagai produsen garam mentah menghadapi berbagai tantangan dalam keseharian mereka, termasuk tantangan terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim yang terjadi pada masyarakat pesisir mempengaruhi kerentanan mereka. Oleh karena itu, penelitian ini ingin melihat alasan mengapa petani garam di Desa Dasun berada dalam posisi yang rentan. Selain itu, penelitian ini juga akan melihat bagaimana respons petani garam dalam menghadapi kerentanan yang mereka alami. Penelitian ini dilakukan melalui metode wawancara dan observasi kepada petani garam dan perangkat desa di Desa Dasun.
Kerentanan petani garam di Desa Dasun dilihat melalui dua aspek, yaitu kerentanan individual dan kerentanan kolektif. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa petani garam mengalami kerentanan kolektif sebagai dampak dari akses terhadap pasar yang terbatas serta kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada petani. Secara individual, kerentanan suatu individu atau rumah tangga ditentukan oleh akses terhadap modal dan teknologi, diversifikasi sumber ekonomi, serta struktur sosial dalam komunitas. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa petani garam mengalami paparan terhadap perubahan iklim yang berinteraksi dengan faktor sosial lainnya menyebabkan kerentanan petani garam yang terlihat dalam ketidakstabilan ekonomi petani garam. Sebagai respons dalam menghadapi kerentanan sosial, petani garam menerapkan berbagai strategi diversifikasi ekonomi seperti alih fungsi tambak garam dan melakukan pekerjaan sampingan di musim hujan, serta memelihara ternak untuk sebagai tabungan mereka.
Salt is a material that is widely used by various sectors, both industrial and domestic. However, salt farmers as producers of raw salt face various challenges in their daily lives, including challenges related to climate change. Climate change affecting coastal communities impacts their vulnerability. Therefore, this study aims to examine the reasons why salt farmers in Dasun Village, are in a vulnerable position. In addition, this study also aims to examine how salt farmers respond to vulnerabilities they encounter. This research was conducted through interviews and observations in Dasun Village. Interviews were conducted with salt farmers and village officials in Dasun Village.
The vulnerability of salt farmers in Dasun Village is analyzed through two aspects, namely individual vulnerability and collective vulnerability. From the results of the study, it was found that salt farmers experience collective vulnerability as a result of limited access to markets and government policies that do not favor farmers. Individually, the vulnerability of an individual or household is determined by access to capital and technology, diversification of economic sources, and the social structure within the community. This study found that salt farmers are exposed to climate change, which interacts with other social factors, causing the vulnerability of salt farmers to be reflected in their economic instability. In response to social vulnerability, salt farmers implement various economic diversification strategies, such as repurposing salt ponds and taking on side jobs during the rainy season, also raising livestock as a form of savings.
Kata Kunci : petani garam, kerentanan, perubahan iklim / salt farmers, vulnerability, climate change