Perempuan Terdidik: Katalis Perubahan di Pertanian Bawang Merah di Padukuhan Blimbing, Karangrejek, Wonosari, Gunung Kidul
Miftakhul Nisa Awaliyah, Prof. Dr. Atik Triratnawati, M.A.
2026 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Di tengah perkembangan zaman pertanian masih menjadi pilihan perempuan di pedesaan Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari peran perempuan dalam pelaksanaanya yang hanya sebagai tenaga kerja, tetapi juga untuk bagaimana tingkat pendidikan dan pola pikir perempuan petani terdisik mempengaruhi cara mereka mengelola usaha pertanian serta kontribusi terhadap pemberdayaan sosial dan pembangunan pertanian berkelanjutan. Maka penelitian ini bertujuan mengkaji peran perempuan berpendidikan sebagai katalis perubahan dalam pemberdayaan petani bawang merah di Padukuhan Blimbing, Pendekatan penelitian ini yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode etnografi, yang menekankan pada pemahaman mendalam terhadap pengalaman dan realitas sosial perempuan petani dari sudut pandang mereka sendiri (perspektif emik). Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan perempuan petani aktif berusia 40–50 tahun yang memiliki minimal pendidikan SMA. Adapun data sekunder dikumpulkan melalui berbagai studi literatur baik melalui artikel, jurnal maupun berita.
Penelitian ini berlangsung mulai dari September 2024 - Juli 2025 dengan tahapan observasi dan wawancara dengan 3 petani perempuan yaitu Ibu Karsini, Ibu Purwanti, Ibu Winarti di Padukuhan Blimbing, Kalurahan Karangrejek, Kapanewon Wonosari Gunung Kidul. Data dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teori Gender dan Pemberdayaan.Faktor pendorong perempuan menjadi petani bawang merah antara lain adalah dorongan ekonomi untuk membantu menambah pendapatan keluarga serta meningkatkan taraf hidup, terutama demi masa depan anak-anak mereka. Selain itu, latar belakang keluarga petani dan dukungan suami turut memotivasi perempuan untuk terlibat dalam kegiatan pertanian. Faktor pendidikan juga memiliki peran penting, karena perempuan terdidik berupaya menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya dalam pengelolaan lahan. Keinginan untuk mandiri secara ekonomi, disertai dengan kondisi lingkungan yang mendukung seperti lahan yang subur dan iklim yang sesuai, semakin mendorong perempuan untuk menekuni profesi sebagai petani bawang merah.
Amid the rapid development of modern times, agriculture remains a livelihood choice for women in rural Indonesia. This phenomenon is closely related not only to their role as agricultural laborers but also to how their educational background and mindset influence farm management, social empowerment, and sustainable agricultural development. Therefore, this study aims to examine the role of educated women as catalysts for change in empowering shallot farmers in Padukuhan Blimbing.
This research employs a qualitative descriptive approach with an ethnographic method, emphasizing an in-depth understanding of women farmers’ experiences and social realities from their own perspectives (emic approach). The data were collected through participatory observation and in-depth interviews with three active women farmers aged 40–50 years with a minimum education level of senior high school. Secondary data were obtained from various literature sources, including articles, journals, and reports.
The research was conducted from September 2024 to July 2025 in Padukuhan Blimbing, Karangrejek Village, Wonosari District, Gunung kidul Regency. The data were analyzed descriptively using gender and empowerment theories.The factors that encourage women to become shallot farmers include economic motivations to support household income and improve family welfare, particularly for their children's future. In addition, a family background in farming and spousal support motivate women to engage in agricultural activities. Education also plays a crucial role, as educated women tend to apply their knowledge and skills in managing farmland. The desire for economic independence, along with supportive environmental conditions such as fertile land and favorable climate, further drives women to pursue shallot farming as their main livelihood.
Kata Kunci : Perempuan terdidik, pemberdayaan petani perempuan, gender