Laporkan Masalah

Nguri-uri Wader Liwet: Program Pemberdayaan Masyarakat untuk Pelestarian Warisan Budaya Takbenda secara Partisipatoris

Bimo Haryo Yudhanto, Dr. Agung Wicaksono, M.A.

2026 | Tesis | S2 Antropologi

Penelitian aksi partisipatoris ini menyoroti paradoks antara pengakuan formal terhadap Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dan keberlanjutan praktiknya di tingkat komunitas. Meskipun berbagai praktik budaya telah memperoleh legitimasi melalui proses penetapan nasional sebagai implementasi kerangka Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage 2003, perlindungan yang diberikan masih cenderung berorientasi administratif—mulai dari inventarisasi, penetapan, hingga penerbitan sertifikat—alih-alih memperkuat proses pewarisan pengetahuan yang berlangsung di lapangan.

Kondisi tersebut terjadi pada wader liwet, pengetahuan mengenai pengolahan makanan yang lahir dari interaksi panjang antara masyarakat Padukuhan Klayar dengan lingkungan sosial, ekologis, dan spiritual mereka. Seluruh rangkaian praktik wader liwet terintegrasi dalam kehidupan masyarakat sebagai bagian dari relasi dengan sungai, ruang hidup, dan identitas komunitas. Namun, praktik ini menghadapi tantangan keberlanjutan karena pola transmisi pengetahuan yang bersifat lisan dan berbasis praktik, sehingga rentan terdisrupsi oleh perubahan sosial, ekologis, dan demografis.

Bertolak dari kondisi tersebut, penelitian aksi ini bertujuan mengembangkan program perlindungan pengetahuan lokal berbasis komunitas untuk melindungi dan mewariskan pengetahuan terkait wader liwet. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan komunitas sebagai subjek utama dalam seluruh tahapan penelitian, mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan, hingga refleksi. Pendekatan ini memungkinkan penelitian tidak hanya menghasilkan pengetahuan akademik, tetapi juga mendorong perubahan praksis melalui keterlibatan aktif komunitas dalam merumuskan, menjalankan, dan mengevaluasi program perlindungan yang relevan dengan konteks mereka.

Penggunaan PAR dalam penelitian ini dipadukan dengan kerangka konseptual Robyn Eversole (2018) tentang pembangunan berbasis komunitas, yang menekankan bahwa strategi pelestarian dan pembangunan yang efektif harus berangkat dari pengalaman, praktik, dan kebutuhan masyarakat sendiri. Metode penelitian meliputi observasi partisipan, wawancara mendalam, serta dokumentasi kolaboratif bersama anggota komunitas sebagai bagian dari siklus aksi dan refleksi.

Hasil dari penelitian aksi ini berupa video dan arsip pengetahuan lokal yang dihasilkan melalui pengarsipan partisipatif, dengan mengutamakan komunitas sebagai subjek aktif untuk merefleksikan, mendokumentasikan, dan mengelola pengetahuan mereka sendiri. Lebih dari sekadar produk dokumentasi, proses ini memperkuat kapasitas lokal dalam pewarisan budaya serta membuka ruang pembelajaran kolektif dan dialog antargenerasi. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat menjadi model alternatif perlindungan warisan budaya takbenda yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan di Indonesia, khususnya dalam menjembatani kesenjangan antara pengakuan formal dan praktik pelestarian di tingkat komunitas.

This action research highlights the paradox between the formal recognition of Intangible Cultural Heritage (ICH) and the sustainability of its practices at the community level. Although many cultural practices have gained legitimacy through national designation processes as part of the implementation of the Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (2003), the protection provided remains largely administrative—focusing on inventorying, designation, and certification—rather than on strengthening the processes of knowledge transmission that take place in everyday practice.

This condition is evident in the case of wader liwet, a body of knowledge related to food preparation that has emerged from long-term interactions between the people of Padukuhan Klayar and their social, ecological, and spiritual environment. The entire sequence of wader liwet practices is embedded in community life as part of their relationship with the river, living space, and collective identity. However, the sustainability of this practice is increasingly challenged due to modes of transmission that rely on oral knowledge and embodied practice, making it vulnerable to disruption caused by social, ecological, and demographic changes.

In response to these conditions, this action research aims to develop a community-based local knowledge protection program to safeguard and transmit knowledge related to wader liwet. To achieve this aim, the study employs a Participatory Action Research (PAR) approach that positions the community as the primary subject throughout all stages of the research process, including planning, action, observation, and reflection. This approach enables the research not only to generate academic knowledge but also to foster practical change through the active involvement of community members in designing, implementing, and evaluating protection strategies that are relevant to their local context.

The use of PAR in this study is integrated with Robyn Eversole’s (2018) conceptual framework on community-based development, which emphasizes that effective strategies for preservation and development must be grounded in the lived experiences, practices, and needs of the community itself. The research methods include participant observation, in-depth interviews, and collaborative documentation with community members as part of an iterative cycle of action and reflection.

The outcomes of this action research include the production of videos and local knowledge archives generated through participatory archiving practices that prioritize the community as active agents in reflecting upon, documenting, and managing their own knowledge. Beyond serving as documentation outputs, this process strengthens local capacity for cultural transmission and creates spaces for collective learning and intergenerational dialogue. As such, this program is expected to serve as an alternative model for more inclusive, adaptive, and sustainable strategies for safeguarding intangible cultural heritage in Indonesia, particularly in addressing the gap between formal recognition and lived cultural practice at the community level.

Kata Kunci : warisan budaya takbenda, wader liwet, pemberdayaan masyarakat, penelitian aksi, Gunungkidul

  1. S2-2026-528791-abstract.pdf  
  2. S2-2026-528791-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-528791-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-528791-title.pdf