Hubungan Pengetahuan dengan Persepsi Masyarakat mengenai Obat Palsu: Survei di Kabupaten Magelang
Aisyah Nuraini Latifah, Dr. apt. Nunung Yuniarti, S.F., M.Si.; Prof. Dr. apt. Susi Ari Kristina, M.Kes.
2026 | Skripsi | FARMASI
Obat palsu merupakan masalah serius di Indonesia karena dapat menyebabkan kegagalan terapi, resistensi obat, bahkan kematian, serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan. Rendahnya pengetahuan dan persepsi masyarakat turut meningkatkan risiko pembelian obat palsu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik sosiodemografi, pengetahuan, dan persepsi masyarakat mengenai obat palsu di Kabupaten Magelang.
Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross-sectional. Instrumen penelitian berupa kuesioner cetak dan kuesioner daring melalui Google Form, yang terdiri atas 10 pertanyaan pengetahuan yang dinilai dengan skala Guttman dan 10 pertanyaan persepsi yang dinilai dengan skala Likert. Responden dipilih menggunakan metode convenience sampling dengan jumlah 129 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara deskriptif serta menggunakan uji Chi-square dan Fisher’s exact test pada tingkat signifikansi 95% (p < 0>
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan tinggi (91,5%) dan persepsi positif (96,9%) terhadap obat palsu, meskipun masih ditemukan responden dengan pengetahuan sedang (8,5%) dan persepsi negatif (3,1%). Analisis hubungan menunjukkan bahwa pendidikan terakhir (p = 0,033) dan pekerjaan (p = 0,019) berhubungan signifikan dengan pengetahuan masyarakat mengenai obat palsu. Pada variabel persepsi, hanya pekerjaan yang menunjukkan hubungan signifikan (p < 0 xss=removed>
Counterfeit medicines remain a serious public health problem in Indonesia, as they may cause therapeutic failure, drug resistance, and even death, while also reduce public trust in the healthcare system. Low levels of public knowledge and perception further increase the risk of purchasing counterfeit medicines. Therefore, this study aimed to analyze the relationship between sociodemographic characteristics, knowledge, and public perception of counterfeit medicines in Magelang Regency.
This study was an observational study with a cross-sectional design. The research instrument consisted of printed questionnaires and online questionnaires via Google Forms, comprising 10 knowledge questions assessed using the Guttman scale and 10 perception questions assessed using the Likert scale. Respondents were selected using a convenience sampling method, with a total of 129 respondents who met the inclusion criteria. Data were analyzed descriptively and inferentially using the Chi-square test and Fisher’s exact test at a 95% significance level (p < 0>
The results showed that the majority of respondents had a high level of knowledge (91.5%) and positive perceptions (96.9%) regarding counterfeit medicines, although a proportion of respondents still demonstrated moderate knowledge (8.5%) and negative perceptions (3.1%). Bivariate analysis indicated that the highest level of education (p = 0.033) and occupation (p = 0.019) were significantly associated with public knowledge of counterfeit medicines. In terms of perception, only occupation showed a significant association (p < 0 xss=removed>
Kata Kunci : obat palsu, pengetahuan, persepsi, masyarakat, sosiodemografi, Magelang