Pengaruh Perubahan Kemiringan Desain Bendungan Terhadap Stabilitas Dan Volume Pekerjaan: Studi Kasus Bendungan Jragung, Kabupaten Semarang
MUHAMMAD ILHAM FAUZI, M. Sulaiman, S.T., M.T., D. Eng.
2025 | Tugas Akhir | D4 TEKNOLOGI REKAYASA PELAKSANAAN BANGUNAN SIPIL
Bendungan merupakan infrastruktur penting dalam pengelolaan sumber daya
air, terutama untuk keperluan irigasi, air baku, dan pengendalian banjir di
Indonesia. Bendungan tipe urugan banyak digunakan karena metode konstruksinya
yang sederhana dan ketersediaan material lokal. Namun, geometri tubuh
bendungan, terutama kemiringan lereng, memegang peran krusial dalam menjamin
stabilitas struktur dan efisiensi pelaksanaan konstruksi. Penelitian ini
mengambil studi kasus pada Bendungan Jragung, salah satu Proyek Strategis
Nasional, yang mengalami justifikasi teknis pada tahun 2022 terkait perubahan
geometri tubuh bendungan, khususnya pada kemiringan lereng.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perubahan desain
lereng terhadap stabilitas lereng, debit rembesan, dan volume pekerjaan
konstruksi. Analisis dilakukan pada potongan melintang STA 0+500 menggunakan
perangkat lunak GeoStudio, khususnya modul Slope/W dan Seep/W, dengan
mempertimbangkan kondisi Muka Air Rendah (LWL), Normal (NWL), dan Tinggi (HWL).
Selain itu, perhitungan perubahan volume timbunan dilakukan pada rentang STA
0+000 hingga STA 0+550 untuk mengevaluasi selisih kuantitas pekerjaan
konstruksi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan desain geometri lereng
menyebabkan penurunan nilai Safety Factor (SF) pada lereng hulu maupun hilir.
Pada lereng hulu, SF menurun dari 3.092 menjadi 2.556 (LWL), dari 4.035 menjadi
3.420 (NWL), dan dari 4.120 menjadi 3.485 (HWL), sementara pada lereng hilir
turun konsisten dari 2.456 menjadi 2.266 di seluruh kondisi muka air. Meskipun
terjadi penurunan, seluruh nilai SF masih berada di atas batas minimum yang
diprasyaratkan, sehingga desain tetap dinilai aman secara teknis. Dari sisi
pekerjaan konstruksi, volume zona inti meningkat sebesar 1,438?n timbunan
random naik sebesar 4,143%, sedangkan volume zona filter dan pekerjaan riprap
berkurang masing-masing sebesar 26,675?n 43,725%. Hasil ini mencerminkan bahwa
perubahan desain tidak hanya memengaruhi aspek stabilitas, tetapi juga
memberikan implikasi terhadap efisiensi material dan potensi penghematan biaya
pada pelaksanaan konstruksi.
Dams are essential infrastructure in water resource management,
particularly for irrigation, raw water supply, and flood control in Indonesia.
Earthfill dams are commonly used due to their simple construction methods and
the availability of local materials. However, the geometry of the dam
body—especially the slope—plays a crucial role in ensuring structural stability
and construction efficiency. This study takes a case study of the Jragung Dam,
one of Indonesia’s National Strategic Projects, which underwent a technical
justification in 2022 related to changes in the dam body geometry, particularly
the slope.
This research aims to analyze the impact of slope design changes on
slope stability, seepage discharge, and construction work volume. The analysis
was conducted on cross-section STA 0+500 using GeoStudio software, particularly
the Slope/W and Seep/W modules, by considering Low Water Level (LWL), Normal
Water Level (NWL), and High Water Level (HWL) conditions. In addition,
calculations of embankment volume changes were carried out from STA 0+000 to
STA 0+550 to evaluate differences in construction work quantities.
The analysis results show that the change in slope geometry design
caused a decrease in the Safety Factor (SF) on both the upstream and downstream
slopes. On the upstream slope, the SF decreased from 3.092 to 2.556 (LWL), from
4.035 to 3.420 (NWL), and from 4.120 to 3.485 (HWL), while on the downstream
slope it consistently decreased from 2.456 to 2.266 in all water level
conditions. Although there was a reduction, all SF values remained above the
required minimum limits, thus the design is still considered technically safe.
In terms of construction work, the volume of the core zone increased by 1.438%
and random fill increased by 4.143%, while the volume of the filter zone and
riprap work decreased by 26.675% and 43.725%, respectively. These results indicate
that the design changes not only affect stability aspects but also have
implications for material efficiency and potential cost savings during
construction implementation.
Kata Kunci : Bendungan Urugan, Stabilitas lereng, Limit Equilibrium Method, Faktor Keamanan, Rembesan, Volume Timbunan, Justifikasi Teknis