Laporkan Masalah

Dari Makna ke Ruang Publik: Konstruksi Simbolik Angkringan dan Pembentukan Public Sphere di Kalangan Mahasiswa Yogyakarta

MUHAMMAD RIAN ADITAMA, Fina Itriyati, M.A., Ph.D.

2025 | Skripsi | Sosiologi

Angkringan mengalami pergeseran fungsi, tidak lagi hanya sebagai tempat makan, tetapi juga sebagai tempat pilihan mahasiswa untuk nongkrong dan bersosial atau third place yang berpotensi untuk menjadi public sphere. Penelitian ini mengeksplorasi pergeseran fungsi tersebut dengan melihat pemaknaan yang dikonstruksikan mahasiswa terhadap angkringan dan nongkrong di angkringan melalui perspektif interaksionisme simbolik. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi mahasiswa sebagai subjek ketika berdiskusi di angkringan dan memahaminya dalam kerangka public sphere. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Temuan menunjukkan bahwa angkringan dimaknai oleh mahasiswa sebagai tempat makan dan nongkrong murah, ruang inklusif dan aksesibel, ruang untuk pemulihan emosional, dan ruang multifungsi. Nongkrong di angkringan juga menjadi ruang di mana mahasiswa dapat membentuk identitas mereka. Berbagai konstruksi makna tersebut memiliki konsekuensi akan terbentuknya angkringan sebagai public sphere. Mahasiswa melakukan diskusi isu struktural ketika berada di angkringan, tetapi diskusi yang dilakukan bergantung dengan yang sedang ramai diperbicangkan di media dan tidak memiliki tujuan untuk mendorong perubahan secara langsung. Mahasiswa berperan sebagai publik yang memaknai dan mereproduksi wacana isu struktural dalam konteks keseharian.

Angkringan has undergone a shift in function, no longer serving merely as a place to eat, but also as a preferred space for students to hang out and socialize, a third place with the potential to become a public sphere. This study explores this functional shift by examining the meanings constructed by students toward angkringan and hanging out at angkringan through the perspective of symbolic interactionism. In addition, the study explores students as subjects when engaging in discussions at angkringan and understands these practices within the framework of the public sphere. This research employs a descriptive qualitative approach. The findings show that students interpret angkringan as an affordable place to eat and hang out, an inclusive and accessible space, a space for emotional recovery, and a multifunctional space. Hanging out at angkringan also becomes a space where students can form their identities. These various constructions of meaning have consequences for the formation of angkringan as a public sphere. Students engage in discussions of structural issues while at angkringan, however, these discussions depend on topics currently trending in the media and do not aim to directly promote change. Students act as a public that interprets and reproduces discourse on structural issues within the context of everyday life.

Kata Kunci : Interaksionisme simbolik, public sphere, angkringan, nongkrong, mahasiswa

  1. S1-2025-462932-abstract.pdf  
  2. S1-2025-462932-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-462932-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-462932-title.pdf