Laporkan Masalah

Kelayakan ekonomi produksi Gubal Gaharu pada tanaman Ketimunan (Gyrinops verteegii (Gilg.) Domke) yang diinokulasi jamur Fusarium lateritium umur satu tahun

SUMAEDI, Dr. Catur Sugiyanto, MA

2005 | Tesis | Magister Ekonomika Pembangunan

Gaharu adalah damar wangi yang dihasilkan oleh pohon dari anggota suku Thymelaeaceae akibat jaringan kayunya terinfeksi oleh jamur tertentu. Manfaat dari gaharu antara lain sebagai bahan pembuat parfum, hio, setanggi dan bahan obat-obatan. Salah satu dari anggota suku Thymelaeaceae yang dapat menghasilkan gaharu adalah tanaman Ketimunan (Gyrinops versteegii (Gilg) Domke). Tanaman ini persebarannya antara lain pada kawasan hutan di Nusa Tenggara Barat yang kondisi potensinya terancam punah, sehingga perlu dilestarikan dengan berbudidaya. Penemuan teknologi untuk memproduksi gubal gaharu belum cukup menarik masyarakat agar mau mengembangkan tanaman penghasil gaharu. Masyarakat akan lebih tertarik apabila produk tersebut dapat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi mereka. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian dari aspek ekonomi terhadap produksi gubal gaharu yang dihasilkan dari proses produksi dengan inokulasi buatan. Penelitian ini mencoba untuk mengkaji penerapan teknologi produksi gubal gaharu dari aspek analisis ekonomi. Tujuannya adalah mengetahui kelayakan ekonomi budidaya gaharu per hektar berdasarkan hasil pemanenan tahun pertama inokulasi jamur Fusarium lateritium pada tanaman ketimunan (Gyrinops versteegii (Gilg) Domke) umur delapan tahun. Data yang diperlukan untuk melakukan penelitian ini berasal dari data sekunder yang digunakan untuk menghitung variabel biaya (Cost) dan pendapatan (Benefit). Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif kuantitatif berdasarkan analisis kriteria investasi. Alat analisis kriteria investasi yang digunakan adalah Net Benefit - Cost Ratio (Net B/C ratio), Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Untuk mengetahui kepekaan terhadap perubahan biaya, produksi dan harga dilakukan analisis sensitivitas. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa budidaya tanaman ketimunan baik yang dilakukan secara tidak kontinyu maupun secara kontinyu dengan harga rendah maupun harga tinggi pada tingkat discount factor 12% dan 18% menghasilkan nilai Net B/C ratio >1, NPV >0 dan IRR > dari discount rate sosial yang berlaku (10% -15%). Dari nilai tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tanaman ketimunan umur delapan tahun yang diinokulasi jamur Fusarium lateritium selama satu tahun secara ekonomi layak untuk diusahakan.

Gaharu (agarwood) is aromatic resin in the decay wood of a tree from family of Thymelaeaceae, which is caused by infected of certain fungus. The used of agarwood is for perfume, joss stick, incense and medicines. Ketimunan (Gyrinops versteegii (Gilg) Domke) is a member of Thymelaeaceae family which can produce aromatic resin. In West Nusa Tenggara, this tree is rare found in the forest and it is included in endangered species condition, so it needs to be conserved by cultivation. People are not enough interested with innovation of producing aromatic resin technology for cultivation agarwood plants, because they are not know the benefit of its yet. The based of those facts, it needs conducting the research of economic aspect about the production of agarwood which come from artificial inoculation. The aim of this research is to analyze the economic feasibility of agar wood culture per hectare based on harvest production on the first year of inoculation of Fusarium lateritium fungus on eight years old of ketimunan trees (Gyrinops versteegii (Gilg.) Domke). The data of this study came from secondary data which was used for counting variability costs and benefits. These data were analyzed with quantity descriptive based on criteria of investment. Tool of criteria of infestation analysis is Net Benefit - Cost Ratio (Net B/C ratio), Net Present Value (NPV) and Internal Rate of Return (IRR). We also analyze the sensitivity of costs, productions, and prices. The results of the study indicated that under 12% and 18% of the discount factor, the Net B/C ratio >1, NPV >1 and the IRR > the social discount rate (10%- 15%). It means that agar wood culture, is a economically feasible.

Kata Kunci : Produksi Gubal Gaharu,Kelayakan Ekonomi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.