Laporkan Masalah

PERAN MODAL KOMUNITAS PADA PROGRAM PERTANIAN TERINTEGRASI LUMBUNG MATARAMAN DI KALURAHAN BENDUNG KAPANEWON SEMIN KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Khusnus Syifa Muhammada, Alia Bihrajihant Raya, S.P., M.P., Ph.D.; Dr. agr. Ir. Sri Peni Wastutiningsih

2025 | Skripsi | PENYULUHAN & KOMUNIKASI PERTANIAN

Pertanian terintegrasi merupakan konsep pertanian yang dapat menjadi pendekatan untuk mengatasi permasalahan dalam budidaya pertanian dan memenuhi ketahanan pangan dari dasar. Salah satu komunitas yang mengadopsi sistem pertanian terintegrasi adalah Lumbung Mataraman Kalurahan Bendung. Program ini dikelola secara kolektif oleh kelompok tani dan KWT dalam satu kalurahan secara demplot. Konsep ini dinilai unik karena tidak semua program Lumbung Mataraman dikelola oleh satu kalurahan secara bersama. Hal inilah yang menjadi aspek penelitian untuk mendalami modal komunitas sebagai salah satu aspek keberhasilan Lumbung Mataraman di Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul. Adapun penelitian adalah mendalami proses terbentuknya modal komunitas serta peran dari modal alam, modal manusia, modal sosial, modal fisik, dan modal finansial pada program pertanian terinetegrasi Lumbung Mataraman Bendung. Penelitian dilakukan dengan pendekatan metode desktiptif kualitiatif. Terbentuknya modal komunitas berawal pengembangan program KRPL (kawasan rumah pangan lestari) dan pengelolan lahan kas kalurahana secara bersama sebagai upaya pemberdayaan KWT pada saat pandemi. Kesiapan masyarakat dalam mengelola pertanian menjadi potensi yang menarik perhatian Dinas Pertananian Gunungkidul untuk dikembangkan menjadi program Lumbung Mataraman. Seluruh aspek modal komunitas berupa modal alam, modal manusia, modal sosial, modal fisik, dan modal finansial memiliki peran yang menguatkan program Lumbung Mataraman Bendung. 

Integrated farming is an agricultural concept that serves as a potential approach to solve problems in agriculture and to strengthened food security from the basic. One community that adopted integrated farming system is Lumbung Mataraman in Bendung Village. This program is managed collectively by farmer groups through demonstration plot model. The uniqueness of this concept as collective management under one village together, which is not commonly found in all Lumbung Mataraman programs. This distinct characteristic forms the basis of this study, which explore community capitals as one of the key elements contributing to the success of Lumbung Mataraman in Bendung Village, Semin Sub-District, Gunungkidul Regency. This research focuses on examining the formation of community capital and the roles of natural capital, human capital, social capital, built capital, and financial capital in the implementation of the Lumbung Mataraman integrated farming program. The study employs a qualitative descriptive approach. The community capital was formed from the development of Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) program and collective management of villaged-owned land as an empowerment strategy for mowen farmers groups during COVID-19 pandemic. The human’s readiness in managing agriculture attracted Dinas Pertanian Gunungkidul’s attention, which further supporterd the development program into Lumbung Mataraman. Each element of community capitals —including natural, human, social, built, and financial —plays a reinforcing role in supporting the success and sustainability of Lumbung Mataraman Bendung Village.

Kata Kunci : Lumbung Mataraman Bendung, Modal Komunitas, Pertanian Terintegrasi, Community Capitals, Integrated Farming

  1. S1-2025-481517-abstract.pdf  
  2. S1-2025-481517-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-481517-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-481517-title.pdf