He-Xie sebagai Nilai Akulturasi Tionghoa - Jawa dalam Ruang Hunian di Kampung Ketandan, Yogyakarta
Ristya Arinta Safitri, Prof. Ir. Tarcicius Yoyok Wahyu Subroto, M.Eng., Ph.D., IPU. ; Dr. Ir. Dwita Hadi Rahmi, M.A
2025 | Disertasi | S3 Teknik Arsitektur
Budaya
sangat terkait dengan arsitektur sebagai cerminan identitas, yang diperkaya
oleh migrasi manusia. Contoh utamanya adalah diaspora etnis Tionghoa ke Asia
Tenggara karena perdagangan (terutama 1870-1940), di mana mereka berhasil
mempertahankan identitas arsitektur khas Pecinan sambil mengalami akulturasi
dengan budaya setempat.Khusus di Yogyakarta, etnis Tionghoa memainkan peran
ekonomi penting sejak masa Kesultanan, menetap di kawasan seperti Kampung
Ketandan di dekat Pasar Beringharjo, yang merupakan bagian dari Catur Gatra
Tunggal kota, di mana terjadi percampuran budaya Tionghoa dan Jawa, namun
hingga kini, mereka masih menghadapi masalah kepemilikan tanah. Penelitian ini
bertujuan untuk merumuskan konsep dan teori nilai ruang hunian rumah tinggal
Tionghoa di Kampung Ketandan Yogyakarta dengan menelaah pola penataan ruang,
baik fisik maupun nilai-nilai laten (nomenal), sebagai cerminan
nilai-nilai yang masih dianut masyarakat dalam konteks akulturasi budaya Jawa.
Penelitian
ini akan menggunakan kombinasi metode grounded theory dan etnografi
secara beriringan untuk merumuskan teori mengenai nilai ruang hunian Tionghoa
di Kampung Ketandan, Yogyakarta. Metode grounded theory akan memberikan
gambaran dan kejelasan objek penelitian melalui prosedur identifikasi masalah,
pengumpulan dan analisis data (pengkodean), serta penarikan kesimpulan,
sementara metode etnografi akan digunakan bersamaan sejak awal hingga akhir
untuk memahami secara mendalam konteks budaya, perilaku, dan adat-istiadat
masyarakat sebagai akar dari objek penelitian.
Terdapat
empat konsep penataan ruang hunian Tionghoa di Kampung Ketandan, Yogyakarta,
yaitu; Penghormatan kepada sian-chó (leluhur), Kosmologi Alam Semesta, Siklus Kehidupan hingga Kematian
dan xiao (Bakti). Didalam keempat konsep tersebut terdapat nilai-nilai
budaya Jawa yang poin akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. He-xie sebagai
teori nilai akulturasi Tionghoa di Kampung Ketandan disusun dari kondisi fisik
penataan ruang dan aktivitas orang Tionghoa di Kampung Ketandan yang dilakukan
secara domestik, ritual dan spiritual. Kondisi empirik tersebut menjadi
indikator yang ketika diinteraksikan satu sama lain akan berkembang menjadi
konsep kemudian dalil yang merupakan unsur-unsur pembentuk teori. Unsur-unsur
pembentuk pembentuk teori ini merupakan konstruksi nilai-nilai yang dimiliki
penghuni Tionghoa di Kampung Ketandan terkait ruang hidup mereka.
Culture is closely related to architecture as a reflection of identity,
enriched by human migration. A prime example is the Chinese diaspora to
Southeast Asia due to trade (especially 1870-1940), where they successfully
maintained their distinctive Chinatown architectural identity while undergoing
acculturation with local cultures.In Yogyakarta specifically, the Chinese
ethnic group has played an important economic role since the Sultanate era,
settling in areas such as Kampung Ketandan near Beringharjo Market, which is
part of the city's Catur Gatra Tunggal, where Chinese and Javanese cultures
have mixed. However, to this day, they still face land ownership issues. This
study aims to formulate concepts and theories of the value of Chinese
residential space in Kampung Ketandan, Yogyakarta, by examining spatial
patterns, both physical and latent (nominal) values, as a reflection of the
values still held by the community in the context of Javanese cultural
acculturation.
This study will use a combination of grounded theory and ethnography
methods in parallel to formulate a theory regarding the value of Chinese
residential space in Kampung Ketandan, Yogyakarta. The grounded theory method
will provide an overview and clarity of the research object through the
procedures of problem identification, data collection and analysis (coding),
and conclusion drawing, while the ethnographic method will be used
simultaneously from start to finish to gain an in-depth understanding of the
cultural context, behaviour, and customs of the community as the root of the
research object.
There are four concepts of Chinese residential spatial
arrangement in Kampung Ketandan, Yogyakarta, namely: Respect
for sian-chó
(ancestors), Cosmology of the Universe, Life Cycle to
Death, and xiao (Filial Piety). Within these four concepts lie Javanese
cultural values that represent the acculturation of Chinese and Javanese
cultures. He-xie, as a theory of Chinese acculturation in Kampung Ketandan, is
constructed from the physical conditions of spatial arrangement and the
activities of the Chinese in Kampung Ketandan, which are carried out
domestically, ritually, and spiritually. These empirical conditions serve as
indicators which, when interacted with one another, develop into concepts and
then principles that form the elements of the theory. The elements that form
this theory are the construction of values held by the Chinese residents of
Kampung Ketandan in relation to their living space.
Kata Kunci : akulturasi, Ketandan Yogyakarta, tionghoa, jawa, nilai, hunian, penataan ruang