Alokasi kebutuhan lahan untuk permukiman di kota Depok Jawa Barat
Fajar Sri Setyaningsih, Prof. Dr. Hadi Sabari Yunus, M.A., DRS.; Djaka Marwasta, S.Si., M.Si.
2008 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANPerkembangan Kota Depok sebagai sebuah kota yang mandiri sesuai dengan ciri khas perkotaan antara lain jumlah penduduk yang besar, karakteristik penggunaan lahan dan aktivitas penduduk. Kota Depok sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah 2000-2010 mengarahkan visi dan misi menjadi sebuah potensi kota permukiman, pendidikan, perdagangan jasa dan industri. Permukiman menjadi salah satu skala prioritas utama dalam visi dan misi Kota Depok karena perkembangan penduduk yang semakin meningkat dan luas ketersediaan lahan yang terbatas serta pertimbangan variasi faktor aksesibilitas wilayah sehingga aktivitas pemenuhan kebutuhan lahan permukiman semakin meningkat pula. Oleh karena itu diperlukan kegiatan alokasi kebutuhan lahan permukiman di Kota Depok dengan melakukan proyeksi atau perkiraan untuk waktu mendatang. Untuk itu penelitian difokuskan pada kajian alokasi kebutuhan lahan untuk permukiman di Kota Depok Jawa Barat (2007-2017). Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengkaji alokasi kebutuhan lahan untuk permukiman di Kota Depok Jawa Barat (2007-2017) dan (2) Mengkaji persebaran keruangan alokasi kebutuhan lahan untuk permukiman di Kota Depok Jawa Barat (2007-2017). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder tahun 2000-2006 dari instansi-instansi terkait dan observasi lapangan di Kota Depok Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sensus menggunakan seluruh kelurahan di kecamatan Kota Depok sebanyak 63 kelurahan di 6 kecamatan Kota Depok. Obyek kajian penelitian menggunakan jumlah rumah tangga dan luas ketersediaan lahan kosong di Kota Depok. Analisis kajian penelitian menggunakan metode proyeksi eksponensial dan gravitasi potensial. Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa perkembangan luas ketersediaan lahan kosong tahun 2017 sebesar 1068 Ha (sebelumnya tahun 2007 sebesar 1255 Ha) mengalami pengurangan luas lahan kosong sebesar 187 Ha. Perkembangan jumlah rumah tangga tahun 2017 sebesar 1.039.255 RT (sebelumnya tahun 2007 sebesar 401.612 RT) mengalami peningkatan jumlah rumah tangga sebesar 637.643 RT. Perkembangan luas alokasi kebutuhan lahan untuk permukiman tahun 2017 sebesar 7490 Ha (sebelumnya tahun 2007 sebesar 2898 Ha) mengalami peningkatan luas kebutuhan lahan untuk permukiman sebesar 4592 Ha. Secara keseluruhan antara luas ketersediaan lahan dan kebutuhan lahan untuk permukiman berbanding terbalik, diperkirakan belum mampu memenuhi jumlah rumah tangga yang semakin meningkat di tahun 2017 dimana perkembangan jumlah rumah tangga berbanding lurus terhadap kebutuhan lahan permukiman. Sebaran keruangan alokasi kebutuhan lahan permukiman di Kota Depok membentuk pola acak (tidak beraturan) bervariasi di seluruh wilayah kecamatan terutama di Kecamatan Pancoran Mas, Sukmajaya dan Beji.
Depok is as an autonomy city with its urban characteristic such as huge quantity of population, land use characteristic and population of activity. Depok according to Region Spatial System Planning 2000-2010 have a vision and mission to be a potential city for settlement, education, service and commerce, industry. Settlement become a one dominant priority scale of its vision and mission because of the increasing of population development and limited availability wide land with variation region accessibility consideration up to increasingly of fulfillment land necessity as well. Therefore, it needs an activity to allocate settlement land necessity in Depok with by make a projection pr prediction for next time. Thus, the research focuses on a study of land necessity allocation for settlement in Depok, West Java (2007-2017). The objectives of the research are (1) to examine the allocation of land necessity for settlement and (2) to examine of spatial distribution allocation of land necessity for settlement in Depok city West Java (2007-2017). The data of the research are secondary data 2000-2006 from the related institution and data from fieldwork observation in Depok, West Java. The method to get the sample of the research is census method applied for all 63 administrative districts in 6 sub district at Depok. The research objects are the growth of the number of households and the availability of land bank in Depok. The analysis method use exponential projection and potential gravitation method. According to the result, it can be concluded that the growth of the availableempty land f for 2017 year is 1068 Ha (previously for 2007 as many as 1255 Ha) will decrease into 187 Ha. The growth of the 1.039.255 total households for 2017 year (previously for 2007 as many as 401.612 households) will increase the total households as many as 637.643 households. The Growth of the necessity land for settlement area for 7490 Ha for 2017 year (Previously for 2007 year as many as 2898 Ha) will increase the land width as many as 4592 Ha. On the whole among availability of empty land width and necessity of land width for settlement area that contrary of proportion, estimated not be able to fulfill of total households the more increasingly until 2017 year where that development of total household that straight of proportion with necessity of land settlement area. Spatial distribution of allocation necessity land for settlement area in Depok City compose to random pattern (in regular) have variation in all sub district regions especially in Pancoran Mas, Sukmajaya and Beji sub districts
Kata Kunci : ketersediaan lahan kosong, jumlah rumah tangga dan kebutuhan lahan,the availability of land bank, the total of household and the necessity of land for The Settlement area