Pemulihan pemanfaatan ruang kota Banda Aceh pasca bencana tsunami ( Studi kecamatan Kuta Alam dan Leung Bata)
Mohd. Meidiansyah, Dr. Muhammad Baiquni, M.A.; Dr. Luthfi Muta'ali, M.T.
2007 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAHKota Banda Aceh merupakan ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang mengalami kerusakan paling parah akibat bencana gempa bumi berkekuatan 8,9 SR dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 lalu. Hal ini berpengaruh pada perubahan pemanfaatan ruang kota antara sebelum dan sesudah bencana tsunami terjadi. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil 2 (dua) kecamatan di Kota Banda Aceh, yaitu Kecamatan Kuta Alam yang termasuk kawasan paling parah mengalami kerusakan fisik dan Kecamatan Lueng Bata yang termasuk kawasan aman dari tsunami. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat kerusakan fisik, mengetahui pemanfaatan ruang berdasarkan arahan dari Pemerintah Kota dan kondisi terkini, menjelaskan faktor-faktor terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang dan menyusun implikasi kebijakan. Metode pengumpulan data pada penelitian ini dengan cara Rapid Rural Apraisal (RRA) yang berguna untuk mengetahui pemahaman wilayah penelitian secara cepat, Indepth Interview berupa wawancara mendalam dengan stakeholders serta pendokumentasian di lapangan. Adapun metode analisisnya dengan menggunakan analisis kuadran untuk mengetahui distorsi pemanfaatan ruang pada kawasan-kawasan tertentu di wilayah penelitian, analisis deskriptif kualitatif untuk mengetahui gambaran kekinian pemanfaatan ruang dan analisis peta. Berdasarkan hasil penelitian diketahui Kuta Alam mengalami kerusakan fisik mencapai 60%. Upaya pemulihan dalam bentuk rehabilitasi dan rekonstruksi saat ini telah berjalan. Penyimpangan atau distorsi pemanfaatan ruang mayoritas terjadi di Kuta Alam dibandingkan dengan Lueng Bata. Faktor Terjadinya penyimpangan ini antara lain karena penertiban dan pengawasan yang belum maksimal, perubahan perilaku masyarakat yang cenderung opportunis serta perencanaan dan pembangunan pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi yang berjalan serentak. Implikasinya adalah dibutuhkan upaya penguatan kelembagaan guna mewujudkan pemulihan pemanfaatan ruang Kota Banda Aceh.
Banda Aceh was the capital city of Nanggroe Aceh Darussalam Province that experience damaged mortallyest consequenced by earthquake disaster with power 8.9 RS and tsunami on December 26th 2004 ago. This matters have influential in changed of city space use between before and after tsunami disaster happened, especially alteration in city service structure. The research was conducted by taken 2 (two) districts at Banda Aceh city, there are Kuta Alam district that was as centre area and belong to most physical damaged by tsunami and the another one is Lueng Bata district that belong to safe area from tsunami range and the new urban development in Banda Aceh city. The purposes of research are to know about physically damaged scale, to know about space use policy from city government and the existing condition, to explain various factors cause of space use distortion and the last one is to composed policy implication. Collecting data in the research was conducted by Rapid Rural Apraisal (RRA) that useful to know about the area of research quickly, indepth interview with stakeholders and documented at field. The analysis was conducted by using quadran analysis that useful to know about various of space use distortion, qualitatif description analysis used to explain the existing condition about space use at research area and map analysis. Based on the research's result that Kuta Alam district experienced physically damaged achieved 60%. Recovery efforts like reconstruction and rehabilitation has been doing at this area. The distortion of space use majority happened at Kuta Alam district than Lueng Bata district. The factors are weakly supervisor and also publisher, the behaviour of community has been changed that disposed to opportunities community and the last one is while rehabilitation and reconstruction phase the planning and the development have been walking together. The implication was need to organism reinforcement efforts to realize the recovery of space use in Banda Aceh city.
Kata Kunci : Pemanfaatan Ruang Kota, Pasca Tsunami,Space use, after tsunami, Banda Aceh