Dampak Intervensi Berdalih Kemanusiaan Amerika Serikat (2011-2016) terhadap Kekerasan Kultural berupa Pembentukan Narasi Bias dan Stereotip Berbasis Sektarianisme di Suriah
Rahma Anggit Khairunnisa, Dr. Titik Firawati
2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Skripsi ini menganalisis dampak intervensi
berdalih kemanusiaan oleh Amerika Serikat (AS) periode 2011–2016 di Suriah,
menggunakan perspektif kekerasan kultural oleh Johan Galtung, yang secara spesifik merujuk pada pembentukan
narasi bias dan stereotip berbasis sektarianisme. Argumen utama dari skripsi ini
adalah, intervensi berdalih kemanusiaan AS dalam praktiknya memperluas
dan melanggengkan kekerasan kultural berbasis sektarianisme yang sebelumnya
telah ada di Suriah, dan lebih lanjut melanggengkan kekerasan struktural dan langsung pada
negara tersebut. Skripsi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yakni
intervensi AS di Suriah periode 2011–2016. Data dikumpulkan melalui analisis
teks terhadap data primer, seperti laporan resmi pemerintah dan pidato
pejabat AS, yang memuat informasi terkait konstruksi musuh terhadap
ISIS, kelompok-kelompok ekstremis, dan rezim Assad, serta linimasa intervensi AS. Data sekunder didapatkan
melalui studi literatur dari buku, berita, jurnal,
dan sumber daring yang membahas kekerasan kultural dalam hal pembentukan narasi sektarianisme oleh
rezim Assad, serta konstruksi musuh terhadap ISIS dan rezim Assad oleh
pemerintah AS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi berdalih kemanusiaan oleh AS memperluas kekerasan kultural berupa pembentukan narasi bias dan stereotip berbasis sektarianisme, dengan melebarkan ruang lingkup narasi yang semula hanya berada dalam level domestik menjadi internasional. Selain itu, target konstruksi musuh melalui taktik evil-naming sasarannya bertambah, meliputi rezim Assad, kelompok ekstremis, dan ISIS atas retorika kemanusiaan, perdamaian, dan demokrasi. Di samping itu, intervensi AS melanggengkan kekerasan kultural dengan terus mereproduksi narasi bias dan stereotip, serta melekatkannya dalam wacana politik Global War on Terror (GWOT), yang kemudian menjustifikasi kekerasan terhadap kelompok yang dilabeli “musuh”, dengan terbentuknya logika pengaburan realitas (de-realization) dan dehumanisasi terhadap kelompok tersebut. Selanjutnya, kekerasan kultural selama intervensi AS melanggengkan kekerasan struktural dan langsung berbasis sektarianisme di Suriah yang sebelumnya sudah terbentuk, dengan terus mereproduksi dan mempertahankan narasi bias dan stereotip. Reproduksi narasi ini memberikan justifikasi terhadap kekerasan langsung maupun struktural berbasis sektarianisme yang terjadi, dan berujung pada normalisasi kekerasan terhadap kelompok yang dilabeli musuh. Hal ini terlihat dengan adanya perubahan persepsi antar kelompok sektarian, fragmentasi yang semakin tajam di masyarakat, serta munculnya rasa takut dan kecurigaan berbasis sektarian di Suriah.
This thesis analyzes the
impact of the United States' intervention under the guise of humanitarian in Syria from 2011 to 2016 through Johan
Galtung's cultural violence perspective, specifically focusing on the formation
of bias narratives and sectarian-based stereotypes. The main argument is that
the United States' intervention under the guise of humanitarian in practice expanded and perpetuated
pre-existing cultural violence based on sectarianism in Syria, which further
perpetuated structural and direct violence in the country.
This thesis uses a qualitative method with a case study approach on US
intervention in Syria during 2011-2016. Data was collected through textual
analysis of primary sources such as official government reports and speeches by
US officials containing information related to enemy construction against ISIS, extremist groups, and the Assad
regime and the timeline of US
intervention. Secondary data was obtained through literature review from books,
news articles, journals, and online sources discussing cultural violence in
terms of sectarian narrative formation by the Assad regime and enemy
construction against ISIS and the Assad regime by the US government.
The results of the study show that US humanitarian
intervention has expanded cultural violence in the form of the formation of
biased and stereotypical narratives based on sectarianism, broadening the scope
of the narrative from the domestic to the international level. In addition, the
targets of enemy construction through the tactic of evil-naming have increased,
including the Assad regime, extremist groups, and ISIS, based on rhetoric of
humanity, peace, and democracy. Moreover, US intervention perpetuates cultural
violence by continuously reproducing biased narratives and stereotypes, and
attaching them to the political discourse of the Global War on Terror (GWOT),
which then justifies violence against groups labeled as “enemies,” with the
formation of a logic of de-realization and dehumanization of these groups.
Furthermore, cultural violence during the US intervention perpetuates
structural and direct violence based on sectarianism in Syria, which had
already been established, by continuing to reproduce and maintain biased
narratives and stereotypes. The reproduction of these narratives justifies the
direct and structural violence based on sectarianism that occurs, and leads to
the normalization of violence against groups labeled as enemies. This can be
seen in the changing perceptions between sectarian groups, the increasingly
sharp fragmentation in society, and the emergence of sectarian-based fear and
suspicion in Syria.
Kata Kunci : intervensi berdalih kemanusiaan, kekerasan kultural, narasi bias dan stereotip, sektarianisme, Amerika Serikat, Suriah.