PERKEMBANGAN INDUSTRI HIBURAN DI KELURAHAN TANGKI, PADA MASA KOLONIAL HINGGA KEMERDEKAAN (1920AN-1990AN)
Jihan Salma Safira, Dr. Widya Fitria Ningsih., M.A.
2026 | Skripsi | ILMU SEJARAH
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses perkembangan dari kawasan industri hiburan di Kelurahan Tangki, Jakarta Barat. Kawasan Tangki dikenal sebagai pusat industri hiburan di Jakarta sejak periode 1920an, wilayah ini semakin berkembang seiring dengan munculnya kelompok sandiwara, bioskop, hingga hunian bagi para seniman yang kemudian membentuk identitas di Tangki sebagai "kampung artis" atau yang lebih di kenal dengan Tangkiwood. Penelitian ini menggunakan metode telusur sumber primer dari arsip-arsip sezaman yang diperoleh dari Delpher.nl, KITLV, iramanusantara.org, mpn.komdigi.go.id, BPS DKI Jakarta, serta informasi yang diperoleh melalui wawancara dengan narasumber. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan sumber sekunder seperti skripsi, tesis, dan karya-karya ilmiah.
Dari Penelitian ini, menunjukan bahwa terdapat faktor-faktor yang mendorong perkembangan industri hiburan di Tangki. Perkembangan industri hiburan di Tangki dipengaruhi oleh lokasi yang berdekatan dengan pusat kota, kebijakan pemerintah daerah yag masih memperhatikan aspek kesenian dan hiburan, serta dinamika industri hiburan yang sedang naik daun. Sementara itu, proses kemunduran industri hiburan di Tangki disebabkan oleh bergesernya pusat industri hiburan, adanya perubahan kebijakan perkotaan, serta tekanan urbanisasi yang memicu terjadinya perubahan fungsi ruang di wilayah Tangki. Kondisi tersebut diperparah dengan tidak adanya pihak yang meneruskan perjuangan para artis dan seniman di Tangkiwood untuk mempertahankan eksistensi kesenian mereka. Proyek Pembangunan yang mengubah struktur fisik permukiman dan kurangnya minat untuk menghidupkan kembali aktivitas kesenian menjadi penyebab utama Tangki sebagai pusat industri hiburan kemudian berubah menjadi identitas kultural saja, termasuk Tangkiwood yang di kenal sebagai kampung artis. Hal itu membuat Kelurahan Tangki menjadi contoh nyata dari proses urbanisasi kota yang tidak seimbang, karena warisan budaya yang memiliki identitas dan menjadi tempatnya para komunitas seni harus tergerus oleh perubahan tata ruang kota dan tekanan ekonomi.
This study aims to examine the development process of the entertainment industry in the Tangki subdistrcit, West Jakarta. The Tangki area has been known as the center of the entertainment industry in Jakarta since the 1920s. This area has grown with the emergence of the theater groups, cinemas, and housing for artists, which then shaped Tangki's identity as an "artists' village" or better known as Tangkiwood. this study uses primary source tracing methods from contemporary archives obtained from Delpher.nl, KITLV, iramanusantara.org, mpn.komdigi.go.id, BPS DKI Jakarta, as well as information obtainedd through interviews with informants, this study also uses secondary sources such as theses, dissertations, and scientific works.
This study show that there are factors that drive the development of the entertainment industry in Tangki. The development of the entertainment industry in Tangki is influenced by its location close to the city center, local government policies that still pay attention to the arts and entertainment, and the dynamics of the booming entertainment industry. Meanwhile, the decline og the entertainment industry in Tangki was caused by the shift of the entertainment industry center, changes in urban planning policies, and the pressure of urbanization, which triggered changes in the function of space in the Tangki area. This condition was exacerbated by the absence of parties to continue the struggle of artists and art workers in Tangkiwood to maintain the existence of their art. Development projects that changed the physical structure of the settlement and a lack of interest in reviving artistic activities were the main causes of Tangki's transformation from and entertainment industry center to a cultural identity, including Tangkiwood, which was known as an artists' village. This has made the Tangki sub-district a clear example of unbalanced urbanization, as cultural heritage with its own identity and as a place for artistic communities has been eroded by changes in urban spatial planning and economic pressures.
Kata Kunci : Tangki, artis, seniman, permukiman, perubahan.