Pengaruh Pelapisan Kitosan-Kurkumin terhadap Pembentukan Biofilm Staphylococcus aureus pada Permukaan Aloi Kobalt Kromium
Katarina Britania Arkadhani, drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D.;dr. Rini Maya Puspita, M. Sc.
2025 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER GIGI
Penyakit peri implan merupakan salah satu penyebab utama kegagalan implan yang dapat berkaitan dengan pembentukan biofilm bakteri Staphylococcus aureus pada permukaan implan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pelapisan kitosan–kurkumin terhadap pembentukan biofilm Staphylococcus aureus pada permukaan aloi kobalt kromium. Sebanyak 12 spesimen aloi kobalt kromium dibagi menjadi tiga kelompok: tanpa perlakuan, pelapisan kitosan, dan pelapisan kitosan–kurkumin. Pelapisan dilakukan dengan metode dip coating, kemudian spesimen direndam dalam suspensi Staphylococcus aureus dan diinkubasi selama 48 jam. Setelah inkubasi, spesimen dibilas dengan PBS, diwarnai menggunakan crystal violet 0,1% selama 15 menit, dibilas kembali dengan PBS, dan direndam dalam etanol absolut 100%. Larutan hasil perendaman dipindahkan ke microplate 96-well dan nilai densitas optik biofilm dibaca menggunakan microplate reader pada panjang gelombang 540 nm. Uji One-way ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan antarkelompok (p<0>Post-Hoc LSD mengkonfirmasi perbedaan signifikan antara semua pasangan kelompok. Dapat disimpulkan bahwa pelapisan kitosan–kurkumin pada permukaan aloi kobalt kromium menurunkan pembentukan biofilm Staphylococcus aureus, yang tercermin dari nilai densitas optik yang lebih rendah dibandingkan kelompok tanpa pelapisan maupun pelapisan kitosan saja.
Peri-implant disease is a significant cause of implant failure and is closely linked to the formation of Staphylococcus aureus biofilm on implant surfaces. This study investigated the impact of chitosan-curcumin coating on the formation of cobalt-chromium specimens were divided into three groups: an uncoated control group, a chitosan-coated group, and a chistosan-curcumin-coated group. The coatings were applied using the dip-coating method, after which the specimens were immersed in a Staphylococcus aureus suspension and incubated for 48 hours. After incubation, the specimens were rinsed with PBS, stained with 0.1% crystal violet for 15 minutes, rinsed again with PBS, and then immersed in absolute ethanol. The resulting solutions were transferred to a 96-well flat-bottom microplate, and the optical density of the formed biofilm was measured using a microplate reader at 540 nm. A one-way ANOVA revealed a statistically significant difference among the groups (p<0>Staphylococcus aureus biofilm formation. This is evident from the lower optical density values observed in the chitosan-curcumin-coated group compared to both the uncoated and chitosan-only groups.
Kata Kunci : Pelapisan, Biofilm, Staphylococcus aureus, Kitosan, Kurkumin, Aloi kobalt kromium