PENGARUH PELAPISAN KITOSAN-KURKUMIN TERHADAP PEMBENTUKAN BIOFILM Candida albicans DAN Staphylococcus aureus PADA PERMUKAAN RESIN AKRILIK
Nanetta Kartika Cintami Perangin Angin, drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D., ;drg. Aryan Moritsa, M.Sc., Ph.D.
2025 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER GIGI
Kasus kehilangan gigi dapat ditangani dengan penggunaan gigi tiruan
lepasan berbahan dasar resin akrilik (PMMA). Namun, karakteristik resin akrilik
yang relatif kasar membuat resin akrilik rentan terhadap kolonisasi Candida
albicans dan Staphylococcus aureus yang menjadi salah satu faktor pendukung
terjadinya denture stomatitis. Berbagai upaya pencegahan melalui penggunaan
bahan antimikrobial menunjukkan keterbatasan seperti resistensi mikroba dan
potensi penurunan kualitas mekanis resin akrilik. Oleh karena itu, metode pelapisan
menjadi alternatif yang lebih aman karena tidak mengubah sifat struktural bahan.
Formulasi pelapisan berbasis kitosan sebagai agen pembawa dengan kurkumin
sebagai zat aktif dipertimbangkan sebagai kandidat potensial berkat sifat
biokompatibel, bioadhesif, serta kemampuan antimikroba dan antiinflamasi yang
dimiliki kedua bahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
pelapisan kitosan-kurkumin pada resin akrilik terhadap pertumbuhan biofilm
C.albicans dan S.aureus.
Penelitian ini menggunakan 12 sampel resin akrilik berbentuk oval dengan
diamteter 10 mm dan tebal 2 mm yang dibagi menjadi tiga kelompok, masingmasing berisi empat sampel. Tiga kelompok uji terdiri atas kontrol negatif (tanpa
pelapisan), perlakuan I (pelapisan kitosan), dan perlakuan II (pelapisan kitosan–
kurkumin). Seluruh sampel direndam dalam suspensi kokultur C.albicans dan
S.aureus selama 48 jam. Pembentukan biofilm kemudian dianalisis menggunakan
pewarnaan kristal violet 0,1?n pembacaan densitas menggunakan microplate
reader dengan panjang gelombang 540 nm.
Hasil uji one-way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan densitas biofilm C.albicans dan S.aureus antar ketiga kelompok (p<0>C.albicans dan S.aureus pada permukan resin akrilik.
Tooth loss can be managed using removable dentures made from acrylic resin (PMMA). However, the relatively rough surface of acrylic resin makes it prone to colonization by Candida albicans and Staphylococcus aureus, which contributes to denture stomatitis. Preventive measures using antimicrobial agents have shown limitations, including microbial resistance and potential deterioration of the mechanical properties of acrylic resin. Therefore, coating techniques are considered a safer alternative because the structural properties of the material are not altered. A chitosan-based coating with curcumin as the active compound is viewed as a promising candidate due to its biocompatible, bioadhesive, antimicrobial, and anti-inflammatory characteristics. This study aims to evaluate the effect of chitosan–curcumin coating on acrylic resin against the biofilm growth of C.albicans and S.aureus.
Twelve oval acrylic resin samples (10 mm in diameter, 2 mm thick) were prepared and divided into three groups of four samples each: negative control (uncoated), Treatment I (chitosan-coated), and Treatment II (chitosan–curcumin– coated). All samples were immersed in a co-culture suspension of C.albicans and S.aureus for 48 hours. Biofilm formation was assessed using 0.1% crystal violet staining, and biofilm density was measured with a microplate reader at 540 nm.
One-way ANOVA showed significant differences in biofilm density of C.albicans and S.aureus among the groups (p<0>C.albicans and S.aureus biofilm on acrylic resin surfaces.
Kata Kunci : Biofilm, C.albicans, S.aureus, Pelapisan