Laporkan Masalah

Variasi upah buruh/karyawan di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Analisis Hasil Sakernas Tahun 2002)

Masir Hasbullah, Drs. Alip Sontosudarmo, M.S.; Umi Listyaningsih, S.Si.

2005 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Penelitian ini berusaha mengungkapkan variasi upah buruh/karyawan menurut kabupaten/kota berdasarkan karakteristik demografi, sosial dan ekonomi dan juga untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi upah. Penelitian ini menggunakan data yang dikumpulkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS), yaitu survey angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2002. Analisis menggunakan tabel silang, rata-rata dan uji statistik chi sguare, uji regresi yang diolah dengan program SPSS versi 12.0 Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi pekerja yang menerima upah kurang dari UMP sebesar 56,9% pekerjan remaja, 43,6% pekerja perempuan, pekerja cerai 60.6%, pendidikan rendah 48,9%, 38,9% untuk pekerja dengan jam kerja kurang 35 jam per minggu, sektor pertanian 47.4%, dan pekerja setengah terampil 49,5%. Variasi upah menurut karakteristik demografi menunjukkan adanya kecenderuangan kenaikan usia diikuti kenaikan upah dan mengalami penurunan pada pekerja lansia. Upah laki-laki lebih tinggi dari upah pekerja perempuan. Upah pekerja tidak kawin dan pekerja cerai berbeda sangat jauh dibandingkan dengan upah pekerja kawin. Menurut aspek sosial ekonomi, terjadi variasi upah yang cukup signifikan antara pendidikan tinggi dengan pendidikan yang lebih rendah. Jam kerja dengan upah berkorelasi negatif, artinya bahwa semakin tinggi jam kerja maka upah semakin renadah kecuali pada jam kerja kritis (<20 jam per minggu). Rata-rata upah semakin tinggi, meningkat dari sektor pertanian ke sektor manufaktur kemudian sektor jasa. Pekerja tidak terampil (tenaga operator) mempunyai rata-rata upah lebih tinggi dari pada tenaga setengah terampil pada usaha jasa. Sementara itu variasi upah antar kabupaten/kota juga terjadi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

This study is to know the variance of labour wages according to the demography, social and economic characteristic. This study use secondary data collected from BPS (Central Statistic Bureau), national labourforce survey(sakernas) of Yogyakarta Special Srovince (DIY) year 2002. The data analysis techique used in this study based on cross-tab, average table and chi square, regresi statistical test using SPSS version 12.00 software. This study informs that the proportion of under UMP waged labour amount 56,9% are teenagers, 43,6% are woman labours, 60.6% are widowers, 48,9% are lower educated labour, 38,9% are less than 35 hours per week labours, 47,4% are farming sector, and 49,5% are medium skilled labours. According to the domography characteristic, the variance of wages tends to increase by labour ages and then decrease in menopause labours. Men labour's wages are higher than waomen's labours. Single labour wages and widowers wages are different significantly than married labours. According to the economic and social aspect, the wages are significantly different between lower and higher educational level. Working hours are negtive correlate with wages. It means that the higher the working hours, the lower the wages, except for the critical working hours (less than 20 hours per week). The wages rate tends to increase for the farming, manufacture and then services sector. Unskilled labour's (operators) wages rate are higher than medium skilled labour in service, while the wages variance are also happen in Yogyakarta Special Province.

Kata Kunci : Upah, variasi, pekerja, demografi,wages, variance, labour, demography

  1. S1-2005-126594-Abstract.pdf  
  2. S1-2005-126594-Bibliography.pdf  
  3. S1-2005-126594-TableofContent.pdf  
  4. S1-2005-126594-Title.pdf