Analisis Efektifitas Corrosion inhibitor Dalam Pengendalian Laju Korosi Untuk Mencegah Kebocoran Pipa di Field AR
aris rachmadani, Ir. Rochim Bakti Cahyono, ST., M.Sc., Ph.D., IPM
2026 | Tesis | MAGISTER TERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Pada industri migas keselamatan dan kesehatan kerja menjadi bagian yang sangat penting sebagai upaya mencegah timbulnya kecelakaan akibat kerja. Salah satunya ialah terkait korosi yang terjadi di fasilitas produksi pada industri minyak dan gas bumi. Kebocoran pipa juga dapat berujung menjadi kecelakaan kerja dan pencemaran lingkungan. Korosi yang terjadi di Field AR berasal dari 2 sumur (KT-01 dan KT-02). Pada penelitian ini akan dilakukan perhitungan laju korosi dan akan ditentukan remaining life service dari pipa penyalur, kemudian akan ditentukan planned maintenance dan perhitungan loss production opportunity. Selain itu, dengan pemakaian korosi inhibitor maka dapat terhindar dari pelanggaran hukum UU No 32 Tahun 2009 dan PP No. 22 Tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi keefektifan dan potensi risiko yang terhindar dengan adanya penggunaan korosi inhibitor serta integritas dari sistem pipa penyalur di Field AR. Penerapan standar internasional diharapkan dapat mengetahui dan mengevaluasi standar penggunaan korosi inhibitor pada fasilitas produksi kegiatan hulu minyak dan gas bumi, serta dampak lingkungan dan dampak biaya yang terhindar dari terjadinya kebocoroan dan oil spill. Pada hasil didapatkan laju korosi pada sumur KT=01 dan KT-02 berturut – turut sebesar 0,74 dan 1,44 mpy dengan %Inhibition sebesar 91,28?n 85,32%, dari yang sebelum penggunaan korosi inhibitor dengan laju korosi yakni 8,52 mpy dan 9,80 mpy . Hasil chemical feed rate untuk menentukan volume penggunaan yaitu sebesar 294,12 dan 137,571 liter/bulan. Penentuan Trequired sebagai salah parameter untuk perhitungan remaining life service dari pipa penyalur didapatkan sebesar 0,00190462 dan 0,007618479 mm. Pada sumur KT-01, setelah penggunaan korosi inhibitor adalah 7,02 tahun dibandingkan sebelumnya yakni 0,61 tahun. Pada sumur KT-02, setelah penggunaan korosi inhibitor didapatkan remaining life 3,57 tahun dibandingkan sebelum penggunaan korosi inhibitor yakni 0,52 tahun. Analisis matriks risiko sebelum dilakukan treatment dengan korosi inhibitor maka nilai probabilitas terjadinya kebocoran akibat korosi sekitar 1-2 kali dalam 1 tahun (5 = almost), setelah dilakukan korosi inhibitor berubah probabilitasnya menjadi 3-7 tahun sekali (3 = moderate). Berdasarkan matriks risikonya, sebelum penggunaan korosi inhibitor yaitu pada skala 15 (likelihood = 3 dan consequences = 5), setelah penggunaan korosi inhibitor pada skala 9 (likelihood = 3 dan consequences = 3).Nilai LPO adalah sebesar 653,44 dan 800,02 bbl dengan estimasi total penghematan sebesar Rp 1.526.905.037. Penggunaan corrosion inhibitor pada sumur KT-01 dan KT-02 dengan CORINH TIPE A dan dosis 25 ppm dapat menurunkan laju korosi. Penggunaan korosi inhibitor dapat memperpanjang remaining life pipa. Nilai risikonya dari skala 15 (tinggi) menjadi skala 9 (moderate). Nilai LPO yang berkurang dan nilai pendapatan yang bertambah dikarenakan jadwal planned maintenance yang berkurang maka didapatkan total penghematan sebesar Rp 1.526.905.037,00.
Kata Kunci : Corrosion Rate, Chemical Feed Rate, Pipe Thickness, Remaining Lifetime Service, Risk Matrix