Laporkan Masalah

Dimensi Makulinitas Berkekerasan dalam Praktik Carok Madura

Ach. Ghivari Zaka Wali, Budiawan, S.S., M.A., Ph.D. : Dr. Arifah Rahmawati, M.?.

2025 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media

Penelitian ini mengkaji dimensi maskulinitas berkekerasan dalam tradisi Carok yang dipraktikkan oleh laki-laki Madura. Menggunakan pendekatan kualitatif empirik, penelitian ini bertujuan memahami proses internalisasi maskulinitas berkekerasan pelaku Carok dan bagaimana nilai-nilai tersebut diwariskan dalam masyarakat Madura. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tiga pelaku Carok (S.A.T., T.A.S., dan M.A.) yang memiliki motif berbeda—kontestasi politik lokal, penistaan tokoh agama, dan pelecehan terhadap istri—serta Focus Group Discussion (FGD) dengan tokoh masyarakat, kelompok pemuda, dan perantau Madura yang berada di Yogyakarta. Kerangka teoritis penelitian menggunakan konsep maskulinitas berkekerasan dari Gary Barker dan Brian Heilman (2018), khususnya dimensi Achieving Socially Recognized Manhood dan Policing Masculine Performance. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Carok bukan tindakan kekerasan impulsif, melainkan respons terstruktur terhadap tuntutan sosial untuk membuktikan kejantanan. Para pelaku menghadapi tekanan sosial melalui mekanisme pengawasan yang halus namun intensif—gosip, sindiran, dan ekspektasi kolektif—yang membuat kekerasan tampak sebagai satu-satunya pilihan yang legitimate untuk memulihkan kehormatan. Nilai maskulinitas berkekerasan ini dilanggengkan dan diwariskan melalui empat jalur utama: (1) keluarga sebagai ruang internalisasi awal melalui pengasuhan dan transmisi simbol pusaka; (2) komunitas sebagai mesin reproduksi moral melalui kontrol sosial; (3) simbol budaya, khususnya celurit, sebagai artefak yang menyimpan memori kolektif keberanian; dan (4) legitimasi agama yang memberikan pembenaran moral. Struktur patriarki memperkuat sistem ini dengan menempatkan laki-laki sebagai penjaga kehormatan keluarga, menciptakan siklus reproduksi nilai yang berkelanjutan. Meskipun terdapat ambivalensi di kalangan generasi muda, tekanan sosial yang kuat membuat transformasi nilai maskulinitas berlangsung lambat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Carok adalah puncak gunung es dari sistem gender yang lebih luas, dan perubahannya memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan negosiasi kultural, penguatan mekanisme mediasi adat, reinterpretasi nilai-nilai religius, dan penciptaan model maskulinitas alternatif yang lebih damai namun tetap menghormati nilai kehormatan dalam budaya Madura.

This research examines the dimensions of violent masculinity in the Carok tradition practiced by Madurese men. Using an empirical qualitative approach, this study aims to understand the internalization process of violent masculinity among Carok perpetrators and how these values are transmitted within Madurese society. Data were collected through in-depth interviews with three Carok perpetrators (S.A.T., T.A.S., and M.A.) with different motives—local political contestation, defamation of religious figures, and harassment of wives—as well as Focus Group Discussions (FGDs) with community leaders, youth groups, and Madurese migrants. The theoretical framework employs Gary Barker and Brian Heilman's (2018) concept of violent masculinity, specifically the dimensions of Achieving Socially Recognized Manhood and Policing Masculine Performance. Research findings indicate that Carok is not an impulsive act of violence but rather a structured response to social demands for proving manhood. Perpetrators face social pressure through subtle yet intensive surveillance mechanisms—gossip, innuendo, and collective expectations—which make violence appear as the only legitimate option for restoring honor. These violent masculinity values are perpetuated and transmitted through four main channels: (1) family as the primary space for initial internalization through child-rearing and transmission of heirloom symbols; (2) community as a moral reproduction machine through social control; (3) cultural symbols, particularly the celurit (sickle), as artifacts storing collective memories of bravery; and (4) religious legitimation providing moral justification. Patriarchal structures reinforce this system by positioning men as guardians of family honor, creating a continuous cycle of value reproduction. Despite ambivalence among younger generations, strong social pressure makes the transformation of masculinity values slow. This research concludes that Carok is the tip of the iceberg of a broader gender system, and its transformation requires a comprehensive approach involving cultural negotiation, strengthening customary mediation mechanisms, reinterpretation of religious values, and creation of alternative masculinity models that are more peaceful while still respecting honor values in Madurese culture.

Kata Kunci : Carok, maskulinitas berkekerasan, Madura, kehormatan, kekerasan kultural, reproduksi sosial

  1. S2-2025-512290-abstract.pdf  
  2. S2-2025-512290-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-512290-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-512290-title.pdf