Bahasa sebagai Representasi Kekuasaan dalam Drama Korea “Pyramid Game”: Critical Discourse Analysis Model Norman Fairclough
Gayatri Annisa Fitriani, Nurul Aini, S.Sos, M.Phil.
2025 | Skripsi | Sosiologi
Penelitian
ini menganalisis bagaimana bahasa berfungsi sebagai representasi kekuasaan
dalam serial drama Korea “Pyramid Game” dengan menggunakan pendekatan Critical
Discourse Analysis (CDA) model Norman Fairclough. Drama ini menampilkan
sistem sosial di sekolah yang hierarkis, dimana posisi siswa ditentukan oleh
tingkat popularitas. Sistem tersebut menjadi metafora tentang bagaimana
kekuasaan dan ketimpangan sosial diproduksi serta dilegitimasi dalam kehidupan
modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
deskriptif. Data utama diperoleh dari teks, dialog, serta adegan dalam serial
drama Korea “Pyramid Game”, sedangkan data sekunder berasal dari
literatur terkait teori wacana, kekuasaan, dan budaya populer. Analisis
dilakukan melalui tiga dimensi Fairclough, yakni analisis teks, praktik
diskursif, dan praksis sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level
tekstual, bahasa berfungsi sebagai alat dominasi simbolik di ruang sekolah melalui
label seperti “kelas A” hingga “kelas F” yang membentuk dan menormalisasi
hierarki sosial lewat ujaran, ekspresi, serta simbol visual. Pada level praktik
diskursif, representasi kekuasaan dibentuk oleh proses produksi drama yang
melibatkan adaptasi dari webtoon, pemilihan gaya penceritaan yang
menonjolkan hierarki dan persaingan, serta mekanisme distribusi dan konsumsi
yang memungkinkan wacana tersebut beredar dan diterima luas oleh audiens. Pada
level praksis sosial, sistem Pyramid Game mencerminkan budaya kompetitif
masyarakat Asia Timur khususnya Korea Selatan yang menilai individu berdasarkan
pengakuan sosial dan performa. Tokoh utama menampilkan bentuk perlawanan
terhadap sistem tersebut, menegaskan pandangan Foucault bahwa di mana ada
kekuasaan, selalu ada ruang bagi resistensi. Secara keseluruhan, drama Korea “Pyramid
Game” tidak hanya menggambarkan praktik perundungan, tetapi juga mengungkap
bagaimana bahasa, kekuasaan, dan ideologi bekerja dalam masyarakat modern,
serta memperlihatkan peran sekolah sebagai agen yang sekaligus mereproduksi dan
merepresentasikan ketimpangan sosial.
This
study analyzes how language functions as a representation of power in the
Korean drama series “Pyramid Game” by employing Norman Fairclough’s model of
Critical Discourse Analysis (CDA). The drama portrays a hierarchical social
system within a school, where students’ positions are determined by their level
of popularity, serving as a metaphor for how power and social inequality are
produced and legitimized in modern society. Using a qualitative descriptive
approach, this study draws its primary data from the drama’s dialogues, texts,
and scenes, while secondary data are obtained from literature on discourse
theory, power, and popular culture. The analysis is carried out through
Fairclough’s three dimensions: textual analysis, discursive practice, and social
practice. The findings reveal that at the textual level, language functions as
an instrument of symbolic domination through labels such as “Class A” to “Class
F,” which construct and normalize social hierarchies through speech,
expression, and visual symbols. At the discursive practice level, the
representation of power is shaped by the drama’s production processes,
including adaptation from a webtoon, the choice of narrative style emphasizing
hierarchy and competition, and distribution and consumption mechanisms that
allow the discourse to circulate and be widely accepted by the audience. At the
social practice level, the Pyramid Game system reflects the competitive and
meritocratic culture of East Asian societies, where individuals are valued
based on recognition and performance. The main character’s resistance reaffirms
Foucault’s idea that wherever there is power, there is also resistance.
Overall, Pyramid Game not only depicts bullying but also reveals how language,
power, and ideology operate in modern society, highlighting the school’s dual
role as both a reproducer and a reflection of social inequality.
Kata Kunci : Analisis Wacana Kritis, Bahasa dan Kekuasaan, Norman Fairclough, Perundungan, Pyramid Game.