Ketimpangan fiskal horisontal dan formula dana alokasi desa di Kabupaten Pekalongan
CASMIDI, Dr. Catur Sugiyanto, MA
2005 | Tesis | Magister Ekonomika PembangunanTujuan inti dalam penelitian ini dimaksudkan untuk merumuskan formula dana alokasi desa (DAD) di Kabupaten Pekalongan yang mencerminkan pemerataan dan keadilan sesuai dengan kondisi kebutuhan fiskal dan potensi fiskal yang dimilikinya agar tidak terjadi ketimpangan fiskal di antara desa. Tujuan lainnya adalah mengkaji ketimpangan fiskal horisontal terkait alokasi transfer untuk desa yang telah diterimakan pada tahun 2003. Derajat ketimpangan ini penting untuk diketahui agar dapat dijadikan pembanding terhadap derajat ketimpangan DAD per kapita antardesa berdasarkan formula DAD baru dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kesenjangan fiskal. Diperlukan variabel kebutuhan ekonomi desa sebagai bobot atas kebutuhan fiskal desa dan variabel potensi ekonomi desa untuk memberi bobot pada potensi fiskal desa. Pembobotan variabel-variabel tersebut dilakukan dengan cara meregresi variabel kebutuhan fiskal dengan pengeluaran desa dan variabel potensi fiskal dengan pendapatan asli desa. Hasil regresi dijadikan dasar pembobotan. Variabel yang memiliki derajat hubungan paling rendah (koefisien terkecil) dalam komponen kebutuhan fiskal dibobot paling tinggi, sedang dalam komponen potensi fiskal, variabel yang memiliki derajat hubungan paling tinggi (koefisien terbesar) dibobot paling tinggi. Hasil pembobotan tersebut dijadikan dasar untuk merumuskan formula DAD. Selanjutnya derajat ketimpangan DAD per kapita baru dibandingkan dengan derajat ketimpangan DAD per kapita sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan ketimpangan fiskal antardesa atas ketimpangan DAD per kapita sebelumnya diperlihatkan dengan nilai Indeks Williamsonnya sebesar 0.4882. Derajat ketimpangan tersebut secara relatif lebih tinggi dibandingkan dengan derajat ketimpangan DAD per kapita berdasar formula DAD baru. Terdapat tiga alternatif rumusan formula DAD dengan nilai Indeks Williamson tertinggi sebesar 0.3934, dan terendah 0.2333. Ketiga alternatif tersebut didasarkan pada hasil pembobotan. Peringkat dan bobot varibel kebutuhan fiskal adalah: (1) prevalensi balita KEP, bobot 0.40; (2) luas wilayah, bobot 0.35; dan (3) jumlah penduduk, bobot 0.25. Peringkat dan bobot variabel potensi fiskal adalah: (1) luas sawah berpengairan teknis, bobot 0.75; dan (2) pendapatan per kapita diproksi dengan KK yang bekerja di sektor industri dan jasa, bobot 0.25. Kesimpulan, pada alternatif formula DAD pertama terdapat 153 desa dari 270 desa di Kabupaten Pekalongan yang harus mendapatkan alokasi lebih kecil dari alokasi transfer sebelumnya (Rp40juta) dengan Indeks Williamson 0.2333. Alternatif kedua, konsekuensinya pemerintah kabupaten harus menambah total DAD menjadi sebesar Rp38.37milyar dari DAD sebelumnya Rp10.80milyar jika ingin mempertahan Indeks Williamson 0.2333. Dengan formula ini terdapat satu desa penerima DAD terendah (Rp40juta) Desa Wonosido Kecamatan Lebakbarang, dan penerima DAD tertinggi (Rp350.69juta) Desa Kesesi Kecamatan Kesesi. Alternatif ketiga, pemerintah kabupaten hanya menambah total DAD menjadi Rp12.47milyar dengan Indeks Williamson 0.3934. Formula ini menghasilkan 153 desa mendapat DAD sebesar Rp40juta, 117 desa mendapatkan lebih dari Rp40juta dengan DAD tertinggi diperoleh Desa Kesesi sebesar Rp110juta.
Core of target in this research is meant to formulate Countryside Allocation Fund (DAD) formula in The Pekalongan Regency Government that express fairness and equalization as according to fiscal requirement condition and fiscal potency which owned in order not to happened fiscal imbalance among countryside. Other target to examine the horizontal fiscal imbalance of transfer allocation fund for countryside which have been accepted in the year 2003. This imbalance degree is important to be known so that can be made for comparator to imbalance degree of per capita DAD between countryside pursuant to new DAD formula in this research. This research use fiscal gap approach. Needed the countryside economics requirement variables as weight of countryside fiscal requirement and the countryside economics potency variables to give weight at countryside fiscal potency. The Variables weight conducted by to doing regression at fiscal requirement variables with countryside expenditure and fiscal potency variables with countryside genuine earnings. The regression result made weight base. Variable owning lowest relation degree (smallest coefficient) in fiscal requirement component is highest weight and in fiscal potency component, variable owning highest relation degree (biggest coefficient) is highest weight. The weight result made basis for formulate DAD formula. The imbalance degree of new per capita DAD just compared to imbalance degree of per capita DAD before all. Research result show fiscal imbalance between countryside of per capita DAD imbalance before all is showed with the Williamson Index value 0.4882. The imbalance degree higher relatively compared to imbalance degree of per capita DAD based on new DAD formula. There are three formula alternative of DAD formula with highest Williamson Index value equal to 0.3934, and lowest 0.2333.Third of the alternative based on weight result. Weight and ranking of fiscal requirement variable is: (1) prevalence of balita KEP, weight 0.40; (2) wide of region, weight 0.35; and (3) residents amount, weight 0.25. While fiscal potency variable weight and ranking: (1) wide of rice field have technical irrigating, weight 0.75; and (2) per capita earnings approached with labouring KK in industrial sector and service, weight 0.25. Conclusion, at first DAD formula alternative there are 153 countryside from 270 countryside in the Pekalongan Regency which must get smaller allocation than transfer allocation before all (Rp40million) with Williamson Index 0.2333. Both alternative, consequence of the regency government have to growing DAD totally become equal to Rp38.37billion of DAD before all Rp10.80billion if we like to maintain Williamson Index 0.2333. With this formula there are one receiver of lowest DAD (Rp40million) Wonosido Countryside of Lebakbarang District, and receiver of highest DAD (Rp350.69million) Kesesi Countryside of Kesesi District. Third alternative, the regency government only growing DAD total become Rp12.47billion with Williamson Index 0.3934. This Formula yield 153 countryside get DAD equal to Rp40million, 117 countryside get more than Rp40million with highest DAD obtained Kesesi Countryside equal to Rp110million.
Kata Kunci : Desentralisasi Fiskal, Dana Alokasi Desa, Pekalongan