Tata Kelola Sistem Pemerintahan Melayu Klasik dalam Hikayat Isma Yatim: Kajian Filologi dan Wacana Sastra
Rakhmat Soleh, Prof. Dr. Sangidu, M.Hum.; Dr. Sudibyo, M.Hum.
2025 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
enelitian disertasi mengkaji salah satu karya roman Melayu klasik, yaitu Hikayat Isma Yatim. Dalam daftar naskah Melayu yang cukup tua, ini sudah disebut-sebut dalam buku Oud en Nieuw Oost Indien (Valentijn) tahun 1726 dan Maleische Spraakkunst (Werndly) pada tahun 1736. Hikayat ini termasuk dalam genre roman Melayu klasik dan banyaknya naskah salinan Hikayat Isma Yatim mengindikasikan bahwa hikayat ini cukup populer. Penelitian ini mengkaji Hikayat Isma Yatim dari perspektif filologi dan analisis wacana untuk memahami konteks pernaskahan, posisi dalam khazanah sastra Melayu klasik, serta wacana tata pemerintahan dan etika yang terkandung di dalamnya. Melalui pendekatan filologi, penelitian ini mendeskripsikan situasi pernaskahan Hikayat Isma Yatim, termasuk proses penyalinan yang menghasilkan varian teks, dan menyajikan suntingan teks yang representatif. Metode yang digunakan adalah metode landasan, yaitu menetapkan satu naskah sebagai dasar suntingan dan naskah lain sebagai pembanding dan pelengkap. Naskah Cod. Or. 1693 dari Perpustakaan Universitas Leiden dipilih sebagai naskah dasar karena memuat teks HIY yang lengkap dari awal hingga akhir. Analisis filologi mengungkapkan bahwa Hikayat Isma Yatim adalah bagian penting dari warisan sastra Melayu. Adapun pendekatan untuk mengkaji isi teks dipergunakan analisis wacana narasi sastra yang dikemukakan oleh Tolliver. Analisis ini dilakukan terhadap bahasa-bahasa yang digunakan dalam hikayat, berupa narasi atau dialog-dialog antartokoh.
Dalam khazanah sastra Melayu klasik, Hikayat Isma Yatim menempati posisi yang unik karena tidak hanya menyajikan kisah petualangan dan percintaan, tetapi juga menawarkan wacana tentang tata pemerintahan dan etika. Hikayat ini menonjolkan peran penting perdana menteri (dalam hikayat bernama Isma Yatim/Isma Menteri) sebagai kepala pemerintahan yang cakap, alim, dan menguasai berbagai aspek pengelolaan negara. Perdana menteri digambarkan memiliki pengaruh besar dalam menjalankan roda pemerintahan, bahkan mendominasi peran raja dalam beberapa hal. Sementara itu, raja tetap diposisikan sebagai kepala negara yang berdaulat, meskipun dalam hikayat ini penekanan lebih banyak diberikan pada fungsi dan tanggung jawab perdana menteri. Analisis wacana mengungkap bagaimana konsep tata pemerintahan Melayu tradisional disampaikan melalui narasi dan dialog, termasuk struktur kekuasaan, peran raja dan pejabat kerajaan, serta hubungan antara penguasa dan rakyat.
This dissertation research examines one of the classical Malay romance works, Hikayat Isma Yatim. In the list of quite old Malay manuscripts, it was mentioned in the book Oud en Nieuw Oost Indien (Valentijn) in 1726 and Maleische Spraakkunst (Werndly) in 1736. This hikayat belongs to the classical Malay romance genre, and the numerous copies of the Hikayat Isma Yatim manuscript indicate that this hikayat is quite popular. This study examines Hikayat Isma Yatim from the perspective of philology and discourse analysis to understand the manuscript context, its position in the classical Malay literary treasury, as well as the discourse of governance and ethics contained therein. Through a philological approach, this study describes the manuscript situation of Hikayat Isma Yatim, including the copying process that produced text variants, and presents a representative text editing. The method used is the foundation method, which is to establish one manuscript as the basis for editing and other manuscripts as a comparison and complement. The Cod. Or. 1693 manuscript from the Leiden University Library was chosen as the basic manuscript because it contains the complete HIY text from beginning to end. Philological analysis reveals that Hikayat Isma Yatim is an important part of the Malay literary heritage.
The approach to examine the text content uses literary narrative discourse analysis proposed by Tolliver. This analysis is carried out on the languages used in the hikayat, in the form of narratives or dialogues between characters. In the classical Malay literary treasury, Hikayat Isma Yatim occupies a unique position because it not only presents stories of adventure and romance but also offers discourse on governance and ethics. This hikayat highlights the important role of the prime minister (in the hikayat named Isma Yatim/Isma Menteri) as the head of government who is capable, devout, and masters various aspects of state management. The prime minister is depicted as having a major influence in running the wheels of government, even dominating the role of the king in some respects. Meanwhile, the king is still positioned as the sovereign head of state, although in this hikayat more emphasis is placed on the functions and responsibilities of the prime minister. Discourse analysis reveals how the concept of traditional Malay governance is conveyed through narrative and dialogue, including the power structure, the roles of the king and royal officials, and the relationship between rulers and the people.
Kata Kunci : Sastra Melayu, filologi, wacana, sistem pemerintahan, perdana menteri