Kinerja lingkungan dan optimalisasi pembangunan sektor industri yang berkelanjutan di Kota Semarang
AGUSTINA, Lu'lu', Dr. Catur Sugiyanto, MA
2005 | Tesis | Magister Ekonomika PembangunanPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji kinerja lingkungan sektor industri di Kota Semarang pada periode tahun 1993–2002 dan menghitung nilai optimal sumbangan PDRB dari sektor industri dan subsektor angkutan darat. Dampak lingkungan yang dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah pencemaran udara sehingga dalam perhitungan optimalisasi baku mutu udara digunakan sebagai batasannya. Indikator yang digunakan untuk mengkaji kinerja lingkungan adalah eko-efisiensi dan de-coupling. Eko-efisiensi diukur dengan rasio antara nilai tambah yang dihasilkan sektor industri dengan jumlah total polutan dari masing-masing jenis pencemar yang dihasilkannya. Peningkatan rasio tersebut menggambarkan adanya perbaikan kinerja lingkungan. De-coupling dinilai dengan membandingkan apakah pertumbuhan ekonomi yang biasanya bersifat positif dari tahun ke tahun disertai dengan kenaikan atau penurunan tingkat kerusakan lingkungan. Untuk menghitung nilai optimal, digunakan Programasi Linier sebagai alat analisisnya dengan nilai PDRB kedua sektor/subsektor tersebut sebagai fungsi tujuannya dan baku mutu udara PM-10, NO2, SO2, HC dan CO sebagai batasannya. Hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa pembangunan Kota Semarang masih berada pada kondisi ‘relative de-coupling’, dalam artian pertumbuhan ekonomi lebih tinggi daripada usaha perbaikan eko-efisiensi sehingga tingkat kerusakan lingkungan, dalam hal ini pencemaran udara terus meningkat. Berdasarkan perhitungan untuk optimalisasi pembangunan sektor industri dan subsektor angkutan darat, diketahui bahwa sampai tahun 2003 pembangunannya belum optimal. Nilai optimal sumbangan sektor industri adalah sebesar Rp11.897.375.650.000,00 dengan hanya mengembangkan subsektor industri pengolahan kode 31, 33 dan 38; atau Rp9.863.577.284.000,00 jika yang dikembangkan subsektor industri pengolahan kode 34 dan 38; atau Rp9.863.578.401.000,00 jika pengembangan hanya dilakukan pada subsektor 37 dan 38; atau Rp9.863.580.188.000,00 jika yang dikembangkan subsektor 36 dan 38. Untuk subsektor angkutan darat, nilai optimal sumbangan subsektor ini dapat mencapai Rp2.098.611.536.000,00, dengan syarat sumbangan dari sektor industri adalah yang berkisar antara Rp9.863.580.188.000,00 sampai dengan Rp9.863.578.401.000,00.
The objectives of the research are to study environmental performance of industrial sector in Semarang Municipality in the period of year 1993-2002 and counting the optimal value of GDRP from industrial sector and subsector of public transportation. This study was concentrated on air pollution, that is why air quality standard used as constraint on the optimisation model. Eco-efficiency and de-coupling were applied to evaluate the environmental performance. Eco-efficiency, or the environmental productivity of industry, measures the ratio between economic output and the environmental pressures resulting from that output. It is calculated as the quantity of value-added output divided by the physical quantity of resource input or quantity of emissions of pollutants respectively. A rise in the ratio represents improving environmental productivity and performance. De-coupling describes the extent to which this increasing economic output is accompanied by an increase or decrease in environmental pressures. Optimisation was analyzed by using Linear Programming, GDRP value of both sector and subsector as an objective function, and air quality standards of parameters PM-10, NO2, SO2, HC and CO as constraints. Results indicate that the development in Semarang Municipality is still under relative de-coupling condition. It means that economic growth was found to be higher than eco-efficiency improvement efforts. This finding identified that environmental destructions represented by air pollution are still increasing. The data of the development of industrial sector and subsector of public transportation has so far indicated that up to year 2003, development of those sectors is still far from optimal. Maximum value of the contribution from industrial sector is about Rp11,897,375,650,000.00. The number was reached only by expanding subsector of manufacture industry code 31, 33 and 38; or Rp9,863,577,284,000.00 only for code 34 and 38; or Rp9,863,578,401,000.00 if only expanding subsector 37 and 38; or Rp9,863,580,188,000.00 if only expanding subsector 36 and 38. For the public transportation subsector, optimal value of its contribution will be Rp2,098,611,536,000.00. The number can be reached if industrial sector contributes between Rp9,863,580,188,000.00 and Rp9,863,578,401,000.00.
Kata Kunci : Pembangunan Ekonomi,Kelestarian Lingkungan,Sektor Industri, eco efficiency, de-coupling, air pollution, optimisation development