Perhitungan proyeksi beban utang dalam APBN, 2005-2009
RUSNA, Muhammad, Dr. Iswardono Sardjono Permono, MA
2005 | Tesis | Magister Ekonomika PembangunanBeban APBN berupa pembayaran bunga dan cicilan pokok utang yang melonjak drastis semenjak krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998 sangat mengkhawatirkan banyak pihak. Menanggapi hal ini pemerintah mencanangkan pengurangan beban tersebut dengan penurunan angka indikator debt to GDP ratio. Apakah dalam kurun waktu lima tahun ke depan rasio tersebut berhasil diturunkan dengan signifikan ? Dengan mendasarkan diri pada proyeksi rencana pemerintah yang termuat dalam Perpres No.7/2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), perhitungan tersebut dilakukan tidak hanya terhadap angka proyeksi yang disusun pemerintah tetapi juga berusaha memeriksa sensitifitasnya terhadap perubahan asumsi-asumsi makronya. Simulasi yang dijalankan ditetapkan melalui 3 skenario pertumbuhan dengan dan tanpa perubahan kurs Rupiah terhadap US Dollar. Hasil perhitungan menunjukkan angka rasio utang-GDP pada akhir periode RPJM tercatat 33,2% untuk skenario pertumbuhan tinggi dan 35,4% untuk skenario pertumbuhan rendah. Angka ini menurun cukup tajam dari rasio utang-GDP 54,5% pada awal tahun tahun 2005. Sensitivitas setiap perubahan 1% dari asumsi pertumbuhan akan mempengaruhi perubahan rasio utang-GDP sebanyak 0,5%, sedangkan sensitivitas setiap perubahan kurs Rp/US$ akan berdampak sebesar 0,04% pada perubahan rasio utang-GDP.
Burden of debt services on Government Budget soared due to debt financing for crisis charge on mid 1998. The Government respond with a pledge to cut their debt to GDP ratio indicator. The key question is whether this mission may accomplish in 5 years ahead. Based on a projection made by The Government theirself, as called President Regulation #7/2005 about Development Plan for Middle Range, the calculation projected debt to GDP ratio now can proceed. To do this, calculating doesnot rely on base assumptions state by this regulation but merely take a few simulation on that. The scenario contains 3 level growth assumptions and each is variabled for every Rp100,-/US$ depreciation exchange rate assumption. Calculation shows that the decreasing of debt to GDP ratio is feasible and significant during the projection. From 54.5% on early 2005 to 33.2% on ending year 2009 with high case scenario, and 35.4% on ending year 2009 with worst case scenario. We also found the sensitivity in every change 1.0% on growth assumption that gives 0.5% different, and 0.0 4% different of debt to GDP ratio if we manipulate exchange rate every change Rp100,-/US$.
Kata Kunci : Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Beban Utang