Terlihat Sejahtera, Apakah Benar Inklusif? Kesejahteraan Relasional Siswa Disabilitas Intelektual di SMK Inklusi
Amethysa Iganingrat, Elga Andriana, S.Psi, M.Ed, Ph.D
2025 | Tesis | S2 Magister Profesi Psikologi
Siswa dengan disabilitas intelektual memiliki hak yang sama untuk pendidikan inklusif, namun sering mengalami diskriminasi dan masalah kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan mendalami kesejahteraan relasional mereka di sekolah inklusif, yang mencakup pemahaman diri, hubungan dengan orang lain, dan pemenuhan kebutuhan melalui dimensi material, relasional, dan subjektif. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, menggunakan mosaic untuk pengumpulan data melalui tur sekolah, foto, pembuatan peta, observasi, dan wawancara dengan siswa, guru, serta teman sebaya. Hasil penelitian menunjukkan pengalaman relasional siswa terbentuk melalui pemenuhan kebutuhan (material), keterhubungan (relasional), dan perasaan baik (subyektif), yang dipengaruhi faktor sosiokultural, personal, dan lingkungan. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, siswa tetap berupaya membangun kesejahteraan relasional mereka sendiri. Temuan ini mendukung teori kesejahteraan relasional dan memberikan implikasi bagi pengembangan praktik sekolah yang lebih inklusif.
Students with intellectual disabilities have the same right to inclusive education but often face discrimination and mental health challenges. This study aims to explore their relational well-being in inclusive schools, encompassing self-understanding, relationships with others, and the fulfillment of needs across material, relational, and subjective dimensions. A qualitative case study approach was employed, using the mosaic method for data collection, including school tours, photographs, mapping, observations, and interviews with students, teachers, and peers. Findings indicate that students’ relational experiences are shaped through the fulfillment of having enough (material), being connected (relational), and feeling good (subjective), influenced by sociocultural, personal, and environmental factors. Despite various challenges, students actively strive to build their own relational well-being. These findings support the theory of relational well-being and have implications for developing more inclusive school practices.
Kata Kunci : kesejahteraan relasional, siswa dengan disabilitas intelektual, sekolah inklusi