Pemanfaatan teknik Penginderaan Jauh untuk kajian kerusakan lahan dan penentuan daerah prioritas penanganan lahan di sub DAS Tjeleng kabupaten Bantul D.I.YOgyakarta
Febry Nurjayanti, Dr. Totok Gunawan, M.S.; Drs. Jamulya, M.S.
2003 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUHPenelitian ini berkaitan dengan pemanfaatan teknik penginderaan jauh untuk kajian kerusakan lahan dan penentuan daerah prioritas penanganan lahan di Sub DAS Tjeleng Kabupaten Bantul D.I.Yogyakarta. Tujuan penelitiannya adalah mengetahui kemampuan foto udara untuk menyadap parameter fisik lahan yang digunakan untuk menilai kerusakan lahan ditinjau dari aspek erosi dan koefisien aliran permukaan serta menentukan daerah prioritas penanganan lahan berdasarkan erosi dan koefisien aliran permukaan dan pertimbangan nilai tekanan penduduk terhadap lahan pertanian. Penelitian ini termasuk ke dalam metode survei. Bahan yang digunakan foto udara pankromatik hitam putih skala 1:30000, tahun pemotretan 1992. Teknik penelitiannya interpretasi foto udara, halmana datanya dari foto udara dan dilengkapi yang diperoleh dari interpretasi peta-peta tematik, data sekunder, serta pengamatan dan pengukuran di lapangan. Satuan lahan digunakan sebagai satuan pemetaan dan satuan analisis. Pengambilan sampel dilakukan secara stratified purposive sampling. Perhitungan besarnya kehilangan tanah (erosi) dilakukan dengan metode USLE dan besarnya koefisien aliran permukaan dihitung dengan metode Cook, sedangkan tekanan penduduk dihitung dengan menggunakan rumus dari Otto Soemarwoto. Ketelitian hasil interpretasi foto udara terhadap parameter fisik lahan daerah aliran sungai adalah (1) bentuklahan dengan ketelitian 81,25%, (2) kemiringan lereng (83,33%), dan (3) penggunaan lahan (83,87%). Parameter erodibilitas tanah, infiltrasi tanah dan rotasi tanaman, komposisi tanaman serta praktek konservasi diperoleh dari kerja lapangan. Parameter erosivitas hujan dan tekanan penduduk diperoleh dari data sekunder. Hasil evaluasi tingkat erosi di Sub DAS Tjeleng adalah kelas I (sangat ringan) seluas 799,334 Ha, kelas II.(ringan) seluas 304,041 Ha, kelas III(sedang) 511,242 Ha, kelas IV(berat) 504,762 Ha dan kelas V(sangat berat)152,045 ha. Hasil evaluasi kelas koefisien aliran di Sub DAS Tjeleng adalah kelas II seluas 105,260 Ha, kelas III 1221,811 Ha, kelas IV(tinggi) 560,141 Ha dan kelas V(sangat tinggi) 384,212 Ha. Hasil evaluasi terhadap tekanan penduduk terhadap lahan pertanian di Sub DAS Tjeleng adalah bahwa pada semua wilayah mempunyai nilai tekanan penduduk lebih dari satu. Penyusunan daerah prioritas penanganan lahan di Sub DAS Tjeieng dilakukan dengan metode skoring terhadap ketiga variabel yang digunakan yaitu tingkat erosi, nilai koefisien aliran dan nilai tekanan penduduk. Pada penelitian ini, penyusunan prioritas penanganan lahan ditujukan pada pemilihan lokasi/daerahnya saja, bukan kepada alternatif/cara penanganannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluas 145,910 Ha (6,4%) daerah penelitian menempati prioritas pertama unatuk segera ditangani, 1362,160 Ha (60%) diurutan kedua dan 763,354 Ha (33,6%) diurutan ketiga. Dari 145,910 Ha tersebut, prioritas penanganan ditujukan pada area dengan penggunaan lahan tegalan seluas 111,06 Ha, permukiman vegetasi jarang seluas 24,68 Ha, kebun campuran seluas 7,78 Ha dan sawah tadah hujan seluas 1,78 Ha.
-
Kata Kunci : Kerusakan lahan,Penginderaan jauh,penanganan lahan,Bantul,DIY